Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | "Ikhlasul Amal" <iamal @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Sat, 7 Aug 1999 15:50:50 +0700 |
| Organization | Kampung Angin Berdesir |
| Sender | owner-piksi-l @ somewhere.in.the.world |
On Wed, Aug 04, 1999 at 09:40:54PM +0000, Istiqfar wrote (probably edited):
% | Aku lagi mikirin perihal banyaknya kemudharatan dan kemaksiatan di
% negeri yang
% | katanya mayoritas beragama paling mulia di-semesta alam ini.
%
% ... Ah apa iya? Aku malah mulai berpikir, jangan-jangan segala yang
% negeri ini terima selama min. 2 tahun terakhir ini, bukan hanya
% disebabkan karena pemimpinnya yang zhalim, melainkan juga karena
% rakyatnya yang kebanyakan sudah hilang imannya dari dada mereka.
Pertama dan paling penting: sebisa mungkin jangan terlalu cepat
menyalahkan rakyat. Bukan karena Gus Dur menggunakan argumen "vox
populi vox dei" waktu istighosyah kubro beberapa hari lalu. Akan
tetapi, karena memang demikian menyedihkan kondisi yang diterima rakyat
negeri ini akibat salah urus. Bahkan untuk hal-hal yang mendasar
(infrastruktur) seperti makan, minum, buang hajat, pakaian, sistem kita
masih sangat kejam terhadap manusia.
Memang, bisa saja dimunculkan alasan, "Itu kan salah mereka sendiri
memilih pemimpin seperti itu." Secara teknis, kita belum pernah memilih
pemimpin dalam iklim yang sehat dan wajar. Pemilu terakhir memang lebih
baik dibanding sebelumnya, namun dengan pelaksanaan yang revolusioner
(siapa sangka dalam waktu dua tahun kita pemilu lagi dengan partai 16
kali lebih banyak?), terlalu singkat buat peserta pemilu memikirkan
tujuan aspirasinya.
% | meniup-niupkan godaan2 maksiat dimana-mana: televisi, radio, tabloid,
% koran2,
% | jalan2, pesta2, iklan2.. toch juga kalau 'kita' cuekin nggak masalah kan?
% | maksudnya kalau mayoritas kita dengan kadar keimanan cukup mengabaikan
% kegiatan
% | mereka itu, mereka pasti nggak laku pasarannya.
Diperlukan usaha yang luar biasa dan istiqomah penuh. Barangkali perlu
mental sekuat Nabi Nuh. Ajakan Anto bagus untuk level pribadi dan
keluarga ('self-defense'), akan tetapi mestinya diimbangi juga oleh
kekuatan suprastruktur berupa regulasi yang memadai. Sekarang ini kan
definisi "boleh/tidak-boleh" umumnya berupa urusan kantong semata.
Memang idealnya ditunjukkan bahwa ada budaya tanding yang positif.
Hanya saja hal itu perlu kesungguhan dan ketelatenan yang luar biasa.
Seringkali harus diperjuangkan sampai kurus-kering.
Terus terang dengan posisi seperti kita pada umumnya (teknokrat), saya
masih merasa belum mendapatkan formulasi yang tepat dalam peran
perbaikan sosial secara praktis. Barangkali teman-teman yang sudah
berurusan dengan 'grand-design' (caleg partai misalnya) atau yang sudah
bergerak dalam wadah organisasi massa lebih dulu memulai.
---end quoted text---
--
@mal
iamal @ somewhere.in.the.world
-----------------------
Rakyat bersatu tak terkalahkan, ABRI bersatu apalagi...
-- Adnan Basalamah
-----------------------------------------------------------
Milis ini diperuntukkan untuk keluarga besar PIKSI
Untuk join/keluar, mail ke majordomo @ somewhere.in.the.world
Isi mail :
Untuk join : subscribe piksi-l
Untuk keluar : unsubscribe piksi-l
-----------------------------------------------------------
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:41:17 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10