Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | istiqfar @ somewhere.in.the.world (Istiqfar) |
| Date | Thu, 19 Aug 1999 16:10:11 GMT |
| Sender | owner-piksi-l @ somewhere.in.the.world |
Cuma sharing konsep saja, mudah-mudahan berguna.
- Berusaha tidak sama dengan memaksakan kehendak. Kita tidak
memaksakan kehendak karena kita tidak tahu apa yang *sebenarnya*
terbaik buat kita.
- Konsep paling mendasarnya adalah *Kepasrahan* (terjemahan dari
"Islam"), yakni kepasrahan diri, bahwa Dia akan memberi yang
terbaik - dengan segala kebijaksanaan dan pertimbangan-Nya - atas
segala urusan dunia dan akhirat ini kepada kita; percaya secara
ikhlas dan hati yang lapang, bahwa kebijaksanaan-Nyalah yang
terbaik dari segala kebijaksanaan yang pernah/belum kita pikirkan.
- Apabila ternyata hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan
kita, kita tidak menggerutu, tidak mengeluh, bahkan tidak untuk
sekedar mengucap "ah sebel", karena:
- kita lah yang mengambil keputusan itu sehingga hasilnya
adalah seperti sekarang ini. Karena itulah kita yang bertanggung
jawab atas segala resikonya. Di sini, ketemunya konsep proaktif
covey (di dalam 7 habits) dengan konsep usaha di Islam.
- karena keterbatasan kita pulalah kita tidak mengetahui
mana yang terbaik yang seharusnya dilakukan.
- kita yakin bahwa insya Allah - karena telah kita iringkan
usaha kita dengan asma-Nya - segala yang telah/sedang kita lakukan
ini akan berakhir dengan yang hasil terbaik bagi kita semua. Di
sini, ketemulah konsep kepasrahan (baca: Islam) dengan konsep
khusnul khotimah = akhir yang baik.
Sedemikian hingga, untuk menghindarinya hal-hal diatas, kuncinya
adalah:
1. Iringkan penyebutan nama Tuhan dalam setiap memulai sesuatu.
Iringkan setiap pekerjaan kita dengan asma-Nya. Kenapa? Karena kita
tidak tahu apakah itu memang pilihan yang terbaik buat kita/tidak.
Yang kita harapkan, adalah mudah-mudahan dengan menyebut nama Tuhan
itu, maka Allah - bila kita salah pun - nantinya dengan ridho dan
kasih sayang-Nya berkenan mengkoreksi jalan/keputusan yang kita
ambil tadi. Inilah salah satu alasan, mengapa harus bismillah
sebelum mulai apa pun.
2. Lakukan segala sesuatunya itu secara profesional, kaffah, total,
mujahadah, tidak tanggung-tanggung. Inilah salah satu yang dinilai
nanti kelak di akhirat atas usaha-usaha yang kita lakukan. Kalau
maunya jadi tukang sapu, jadilah tukang sapu yang... (seperti
cuplikan seorang penyair):
Seandainya seseorang mesti memiliki peran sebagai seorang penyapu
jalan,
sudah semestinya ia menyapu jalan tidak beda seperti
Michelangelo melukis,
Beethoven menggubah musik,
atau Shakespeare menulis sajak.
Selayaknya ia menyapu jalan sedemikian rupa sehingga
semua penghuni akhirat maupun penghuni dunia yang lewat
akan berhenti seraya berkata,
"Di sini tinggal seorang penyapu jalan yang hebat,
ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik"
Wassalamu'alaikum,
istiqfar
On Thu, 19 Aug 1999 17:12:04 +0700, you wrote:
| --ada yang mengalir lembut di akhir cerita ini-
| semoga bermanfaat bagi kita semua
|
|
| IKHLAS DENGAN KETENTUAN-NYA
|
| Ada seorang hamba Allah, beliau rajin sholat malam dan bermunajat,
| berkhalwat dengan Al-Kholiq. Setiap malam dari kedua matanya yang
| memerah karena menangis, mengalir air yang membasahi janggutnya, beliau
| berbisik-bisik lirih memohon beberapa permintaan dan pengharapan.
| Dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, hingga putih rambutnya tak kunjung
| jua permintaan beliau dikabulkan oleh Allah. Permintaannya (diantaranya)
|
| adalah agar segera diangkat kemiskinan yang menjadi selimut kehidupannya
|
| selama ini, keluarganya sering sakit-sakitan, setiap hari ia keluar
| untuk berusaha memperoleh rizki Allah tapi tidak tampaklah dilapangkan
| rizqi itu untuknya.
|
| Padahal dahulu, KETIKA IA MASIH BEKERJA MENJADI PETUGAS BEA CUKAI UANG
| DAN KESENANGAN ADALAH KAWAN AKRAB. Hingga suatu saat ia mendengarkan
| ceramah yang menjelaskan bahwa penyelewengan yang sering ia lakukan
| selama ini adalah Haram dan tidak membawa keberkahan, kelak
| penyelewengan ini akan berhadapan dengan hukum Allah yang tidak bisa
| dibantah lagi di
| akhirat. Bergetar hatinya, masuk hidayah Allah atasnya.
|
| Sejak itu tidak pernah lagi ia melakukan perbuatan tersebut, semakin
| rajin ia melakukan sholatul Lail mengadukan nasibnya hanya kepada Allah,
|
| agar diberikan harta yang halal dan rizqi yang lapang dalam menghidupi
| hidup ini.
|
| Namun berangsur-angsur seakan terkena kualat (karena meninggalkan
| perbuatan haram itu) PENGHASILANNYA SEMAKIN MENURUN, BELIAU SEKELUARGA
| SERING SAKIT DAN MENJADIKAN BADANNYA YANG SEHAT MENJADI KURUS, ANAK
| SATU-SATUNYA MENINGGAL SETELAH MENJALANI PERAWATAN SELAMA BEBERAPA
| MINGGU DIRUMAH SAKIT.
|
| Sampai saat itu ia masih bersabar, tak pernah terucap dari mulutnya
| kata-kata keluhan dan makian atas apa yang menimpa hidupnya.
| Malahan menjadikannya semakin sering dan khusyu ia mendekatkan diri
| kepada Allah. Dan malang yang tidak kunjung padam terhadapnya,
| korupsi yang dahulu ia lakukan bertahun silam terungkap, maka ia dan
| beberapa orang rekannya terkena pemecatan dengan tidak hormat.
| Subhanallah, semakin berat rasanya hidup ini baginya.
| Tambah satu kalimat panjang di malam harinya ia mengadu kehadapan
| Rabbnya,menangis dan perih rasa batinnya.
| Setiap dalam sedihnya ia berdoa, selalu ada bisikan lirih di hatinya,
| "Apa yang engkau harapkan itu dekat sekali, bila engkau bertaqwa!".
| Setiap mendengar bisikan itu, timbul semangatnya.
| Kini setelah ia dipecat, ia berdagang.
| Baginya dagang yang tidak pernah untung, hutang yang semakin bertumpuk,
| musibah yang seakan tidak berujung _.. ahhhhh.
|
| Setelah puluhan tahun kedepan sejak ia dekat dengan Allah setiap
| malamnya,tidak juga merobah hidupnya. Sejak puluhan tahun ia mendengar
| bisikan diatas, tidak juga tampak yang dijanjikanNya.
| Mulailah timbul pemikiran yang tidak baik dari syaithon. Hingga beliau
| berkesimpulan, tampaknya Allah tidak ridho terhadap doanya selama ini.
| Maka pada malam harinya, ia berdoa kepada Allah :
| "WAHAI ALLAH YANG MENCIPTAKAN MALAM DAN SIANG, YANG DENGAN MUDAH
| MENCIPTAKAN DIRIMU YANG SEMPURNA INI. KARENA ENGKAU TIDAK MENGABULKAN
| PERMINTAANKU HINGGA SAAT INI, MULAI BESOK AKU TIDAK AKAN MEMINTA DAN
| SHOLAT LAGI KEPADAMU, AKU AKAN LEBIH RAJIN BERUSAHA AGAR TIDAKLAH HARUS
|
| BERALASAN BAHWA SEMUA TERGANTUNG DARIMU. MAAFKAN AKU SELAMA INI, AMPUNI
|
| AKU SELAMA INI MENGANGGAP BAHWA DIRIKU SUDAH DEKAT DENGANMU !"
|
| Beliau tutup doa dengan perasaan berat yang semakin dalam dari awal ia
| berniat seperti itu ('mengkhatamkan' ibadah sholat lailnya). Beliau
| berbaring dengan pemikiran menerawang hingga ia tak mengetahui kapan ia
| tertidur.
| Dalam tidurnya, ia bermimpi, mimpi yang membuatnya semakin merasa
| bersalah.
| Seakan ia melihat suatu padang luas bermandikan cahaya yang menakjubkan,
|
| dan puluhan ribu, atau mungkin jutaan makhluq cahaya duduk diatas
| betisnya sendiri dengan kepala tertunduk takut. Ketika beliau mencoba
| mengangkat wajahnya untuk melihat kepada siapa mereka bersimpuh, tidak
| mampu... kepalanya dan matanya tidak mampu memandang dengan menengadah.
|
| Beliau hanya dapat melihat para makhluq yang duduk dihadapan Sesuatu
| Yang Dahsyat.
| Terdengar olehnya suara pertanyaan, "BAGAIMANA HAMBAKU SI FULAN, HAI
| MALAIKATKU ?" nama yang tidak dikenalnya. Seorang berdiri dengan tubuh
| gemetar karena takut, dan bersuara dengan lirih,
| "Subhanaka yaa Maalikul Quddus, Engkau lebih tahu keadaan hambaMu itu.
| Dia mengatakan demikian :
|
| "Wahai Allah yang menciptakan malam dan siang, yang dengan mudah
| menciptakan dirimu yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan
| permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan
| sholat lagi kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah
| terus beralasan bahwa semua tergantung dariMu. Maafkan aku selama ini,
| ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !"
|
| Ampuni dia yaa Al 'Aziiz, yaa Al Ghofuurur Rohiim!"
|
| Tersentak beliau, itu..._u kata-kataku semalam_ ...celaka, pikirnya.
| Kemudian terdengar suara lagi : "Sayang sekali, padahal Aku sangat
| menyukainya, sangat mencintainya, dan Aku paling suka melihat wajahnya
| yang terpendam menangis, bersimpuh dengan menengadahkan tangannya yang
| gemetar kepadaKu, dengan bisikan-bisikan permohonannya kepadaKu, dengan
| pemintaan-permintaannya kepadaKu, sehingga tak ingin cepat-cepat
| Kukabulkan apa yang hendak Aku berikan kepadanya agar lebih lama dan
| sering Aku memandang wajahnya, Aku percepat cintaKu padanya dengan Aku
| bersihkan ia dari daging-daging haram badannya dengan sakit yang ringan.
|
| Aku sangat menyukai keikhlasan hatinya disaat Aku ambil putranya, disaat
|
| Kuberi ia cobaan tak pernah Ku dengar keluhan kesal dan menyesal di
| mulutnya. Aku rindu kepadanya... rindukah ia kepadaKu, hai
| malaikat-malaikatKu ?"
|
| Suasana hening, tak ada jawaban. Menyesallah beliau atas pernyataannya
| semalam, ingin ia berteriak untuk menjawab dan minta ampun tapi suara
| tak terdengar, bising dalam hatinya karenanya. "Ini aku Yaa Robbi, ini
| aku. Ampuni aku yaa Robbi, maafkan kata-kataku !" semakin takut rasanya
| ketika tidak tampak mereka mendengar, mengalirlah air matanya terasa
| hangat di pipinya. Astaghfirullah !! Terbangun ia, mimpii...
|
| Segeralah ia berwudhu, dan kembali bersujud dengan bertambah khusyu',
| kembali ia sholat dengan bertambah panjang dari biasanya, kembali ia
| bermunajat dan berbisik-bisik dengan Al-Kholiq dan berjanji tak akan
| lagi ia ulangi sikapnya malam tadi selama-lamanya.
| "...aa Allah, Yaa Robbi jangan engkau ungkit-ungkit kebodohanku yang
| lalu, ini aku hambaMu yang tidak pintar berkata manis, datang dengan
| berlumuran dosa dan segunung masalah dan harapan, apapun dariMu asal
| Engkau tidak membenciku aku rela...aa Allah, aku rindu padaMu..._"
|
| `````~~~````````
| Semoga menambah keimanan dan ketekunan kita
| dalam mengerjakan sholat lail...amiin.
|
| Sumber: Gang Al-Maghfiroh - Condet Balekambang, Jakarta Timur
| -AA-~jihadsabiluna_
| wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh,
-----------------------------------------------------------
Milis ini diperuntukkan untuk keluarga besar PIKSI
Untuk join/keluar, mail ke majordomo @ somewhere.in.the.world
Isi mail :
Untuk join : subscribe piksi-l
Untuk keluar : unsubscribe piksi-l
-----------------------------------------------------------
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:41:18 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10