Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

[PIKSI] Doa Bukanlah Lampu Aladin

From "Akhmad Hadi Susanto" <ASUSANT @ somewhere.in.the.world>
Date Mon, 30 Aug 1999 17:58:17 +0700
Sender owner-piksi-l @ somewhere.in.the.world

Ane forward dari Employee Notice Board kami. Semoga berguna.
Salam,
-anto-

---------------------- Forwarded by Akhmad Hadi Susanto/ARII/AIOGC/ARCO on
08/30/99 05:53 PM ---------------------------

Dahulu,ia mubaligh populer dikalangan anak muda. Suaranya keras,baik volume
maupun isinya. Kini,ia datang kepadaku terseok-seok,hampir seperti "rongsokan
tubuh". Wajahnya muram. Kekecewaanya begitu besar, sehingga tidak menyisakan
sedikitpun ruang pada air mukanya untuk harapan.
Ia kecewa kepada pemerintahnya, karena tidak memelihara "fakir miskin dan anak
anak terlantar."Ia kecewa pada jamaahnya. Dulu, mereka meng-elu elukannya. Kini,
tak seorangpun diantara mereka menegurnya. Mereka ribut mengumpulkan dana untuk
memperbaiki pengeras suara mesdjid. Tak seorangpun memperhatikan tenggorokannya
yang rusak. Ia kecewa kepada kepada organisasinya. Hanya karena ia sakit, bukan
saja dia tidak dibantu, ia dicoret dari daftar anggota. Dari seorang "somebody"
ia telah dijatuhkan menjadi "nobody". Ia kecewa kepada agamanya. Agama tidak
membantunya mengatasi kesulitan hidupnya. Akhirnya, ia kecewa kepada Tuhan.

Aku lakukan salat malam. Aku amalkan doa dan wirid. Aku hanya meminta Dia untuk
membebaskan aku dari ketergantungan kepada obat. Aku muak dengan pil,
injeksi,atau obat obat kimia lainnya. Karena tergantung kepada obat, setiap
bulan, aku harus mengemis meminta bantuan kepada orang orang yang sudah bosan
melihatku. Karena biaya pengobatan yang mahal, aku telah menyengsarakan
keluargaku. Cuma satu aku minta 'Tuhan, Sekiranya Engkau tidak mau
menyembuhkanku, bebaskan aku dari ketergantungan kepada obat. 'Itu saja.
Tapi puluhan tahun aku berdoa, Tuhan tidak menjawab doaku. Mungkin doaku tidak
dikabulkan karena dosa. Aku sadar aku mempunyai banyak dosa. Tapi siapa diantara
kita yang tidak berdosa. Kalau begitu, apa gunanya aku berdoa.
Toh, doaku tidak akan didengar."

Banyak orang seperti dia. Dari kecewa kepada kehidupan, ia kecewa kepada Tuhan.
Orang miskin yang selalu diperlakukan tidak adil oleh masyarakat sekitarnya;
Mahasiswa cerdas yang dijatuhkan dosen yang iri akan kecerdasannya; perempuan
berjilbab yang dikhianati suaminya, yang dahulu terkesan salih dan alim;
Profesor yang memilih untuk "kafir" karena ia ditipu puluhan juta oleh seorang
kyai; pemikir islam yang kecewa dengan keadaan umat Islam yang miskin dan
terbelakang.
Semuanya sampai pada kesimpulan: berdoa tidak perlu. Pertama, kesulitan hidupnya
tak pernah selesai dengan doa. Kedua, bila doa kita tidak dikabulkan karena
dosa, sedang semua berdosa, apa perlunya berdoa.

Sayangnya semua lupa untuk meninjau kembali konsep doa. Anda dapat memandang doa
sebagai mantera magis untuk mengendalikan alam semesta. Tuhan tidak dilihat
sebagai kekuatan gaib yang harus tunduk kepada kemauan anda. Doa anda mirip
lampu Aladin dan Tuhan menjadi Jin. Ketika Anda berdoa, Tuhan harus keluar untuk
bersimpuh didepan Anda, "Tuan katakan kehendak Tuan", Karena itu, ketika Tuhan
tidak memenuhi kehendak Anda, Anda marah kepadanya. Anda kecewa dan segera
membuang lampu Aladin itu.

"Bila anda ingin tahu dimana posisi Anda disisi Tuhan, lihatlah dimana posisi
Tuhan dihati Anda," ujar Imam Ja'far ash-Shadiq. Alangkah rendahnya Anda dimata
Tuhan, bila Anda memperlakukan Dia hanya sebagai Jin untuk lampu aladin Anda.
Anda berdalih, doa adalah ungkapan cinta. Tetapi, Anda hanya berdoa kepada-Nya
ketika Anda memerlukan-Nya. Jadi , Anda mencintai-Nya karena Anda
memerlukan-Nya. Erich Fromm menulis "Immature love says,
'I love you because I need you. 'Mature love says, 'i need you because I love
you'''.

Zakariyya a.s. adalah nabi dan manusia sempurna yang terpelihara dari dosa.
Puluhan tahun doanya tak dipenuhi. Berhentikah dia berdoa? Kecewakah dia kepada
Tuhan? Tuhan memuji Zakariyya, Setelah Zakariyya memuji Tuhan. Ingatlah rahmat
Tuhanmu untuk hambanya Zakariya. Ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan
lembut. Ia berkata, "Tuhanku, sungguh sudah rapuh tulangku, sudah berkilauan
kepalaku dengan uban, tetapi aku belum pernah kecewa untuk berdoa kepada-Mu ya
Tuhanku"(QS 19:2-4).
Kekasih Tuhan yang lain, Musa a.s. berjuang dan berdoa untuk kejatuhan Fir'aun.
"ada rentang waktu empat puluh tahun antara permulaan doa Musa a.s. dengan
tenggelamnya Fiar'aun" ujar imam Ja'far.
Ditempat lain, penghulu para wali Allah berkata, "seorang kekasih Allah berdoa
kepada-Nya. Dia berkata kepada salah seorang malaikat-Nya, 'Penuhi keperluan
hambaku, tetapi jangan segera, karena aku senang mendengar rintihannya.'
Seorang musuh Tuhan berdoa kepada-Nya,'Penuhi keperluannya dengan segera, karena
Aku benci mendengar suaranya.'''
Bapak Mubaligh, Jika anda mencintai Tuhan dan Dia mencintai rintihan Anda,
berdoalah terus, merintihlah terus didepan Kekasih  Anda.


Sumber : Reformasi Sufistik - Jalaluddin Rahmat





-----------------------------------------------------------
Milis ini diperuntukkan untuk keluarga besar PIKSI
Untuk join/keluar, mail ke majordomo @ somewhere.in.the.world
Isi mail :
Untuk join   : subscribe piksi-l
Untuk keluar : unsubscribe piksi-l
-----------------------------------------------------------

 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:41:18 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10