Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | amal @ somewhere.in.the.world |
| Date | Mon, 01 Nov 1999 17:34:46 -0800 |
| User-agent | eGroups-EW/0.78 |
Bismillahhirrahmanirrahim. Agak mengejutkan ulasan Republika (www.republika.co.id) edisi Ahad kemarin, 31/10, tentang "budaya santri" yang "dibawa" presiden ke Istana. Secara umum opini tersebut berisi semacam peringatan bahwa gaya Gus Dur dengan latar belakang pesantren klasik Jawa dapat mementahkan bola reformasi yang tengah berupaya digulirkan terus. Tentu saja hal itu baik sekali. Sikap kritis terhadap penguasa merupakan bagian yang kini mulai dikembangkan menuju Indonesia Baru. Saling berwasiat dalam hal kebaikan pun merupakan bagian dari akhlak mulia. Cuma sayang sekali, Republika mulai meniup-niupkan kisah lama seteru Islam-tradisional dan Islam-modernis. Penyebutan dominasi kyai-kyai di pondok pesantren yang mirip raja kecil rasanya terlalu dibuat-buat. Setahu saya tidak pernah dikabarkan kyai bertingkah-laku bak penggede Pemda atau Kanwil. Apalagi argumen yang disodorkan Republika adalah tesis orientalis -- yang dalam banyak pengajian biasanya malah dikecam. Lebih parah lagi, penyebutan isu sentimen Jawa sangat tidak beralasan dalam hari-hari seperti sekarang dan dalam konteks pesantren itu sendiri. Ilustrasi lain tentang kasus lawakan Bagito sebagai awal kontrol kebebasan berpendapat juga terlalu naif. Siapa sebenarnya yang tiba-tiba gerah malam itu? Departemen Penerangan jelas tidak. Menko Polkam telepon ke studio tv swasta? Masak sih! Atau warga Nahdliyin yang keberatan "wali"-nya diolok-olok? Ya sudah, biar saja: toh, mereka punya kesenian hadrah dan dhiba'an sendiri. Kuatir Bank BCA dijauhi nasabah petani dan nelayan di desa-desa? Nah, kalau ini sudah motif bisnis: resiko pemasaran yang gagal... Terakhir dan menyedihkan, Republika terkesan "keberatan" budaya santri diusung ke istana, dengan dalih pluralitas. Lho, katanya kita ingin negeri ini bersuasana sebagaimana agama yang dianut mayoritas penduduknya. (maaf, itu jargon lama dan potensial untuk direvisi) Kenapa sekarang baru saja ditampilkan "suasana fisik" pesantren -- sekedar sarung dan sandal -- langsung dijadikan sasaran tembak. Apa karena gaya "fashion" santri "ketinggalan jaman", kumuh, kusam, dan kedodoran? He... he... siapa takut "ketinggalam jaman"? Wong jaman-e jaman edan! -- kata Kartolo. Catatan: "Kompas online" edisi Minggu kemarin juga *kebetulan* mengungkit "style" Gus Dur di Istana. Uniknya, mereka malah "memuji"! Bukan Kompas, bukan Republika mana ampas, mana permata? Wassalam, -- @mal amal @ somewhere.in.the.world ------------------------------------------------------------------------ --- Berlangganan: piksi-l-subscribe @ somewhere.in.the.world Berhenti: piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world Arsip: http://www.egroups.com/group/piksi-l eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/piksi-l http://www.egroups.com - Simplifying group communications
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:41:18 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10