Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | Budi Santoso <Budi.Santoso @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Wed, 14 Mar 2001 21:36:11 +0700 |
Warta Ekonomi - New Economy
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Menuju Bandung Lautan TI
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
***************************************************
keberadaan sejumlah lembaga pendidikan, perusahaan
multinasional, perusahaan lokal yang tumbuh pesat,
dan ketertarikan pemodal ventura serta faktor pen-
dukung lainnya yang ada di bandung makin memuluskan
kota kembang ini menuju kawasan Silicon Valley-nya
Indonesia.
***************************************************
Sekilas tampak seperti sebuah diskusi biasa. Pesertanya tampil
dengan santai, bahkan banyak yang memakai T-shirt dan sandal
jepit. Ruangan dan suguhannya pun tidak terlalu mewah. Namun
jangan dikira diskusi ini tak serius. Mereka bahkan sedang
berupaya menelurkan ide besar. Diskusi bulanan yang
diselenggarakan oleh para pelaku, pemerhati dan peminat teknologi
informasi (TI) itu bertujuan mewujudkan Bandung High Tech Valley
(BHTV), konsep masa depan yang kalau berhasil akan banyak
mengubah wajah kota Bandung.
Senin, 19 Februari 2001, Warta Ekonomi berkesempatan hadir di
sana, di Jalan R.E. Martadinata 165, Bandung. Diskusi kali ini
rupanya agak istimewa karena ada seorang tamu yang cukup berarti
dalam perwujudan BHTV dan berbicara pada diskusi itu. Namanya
Daniel Tjoa, alumnus ITB tahun 1964 yang saat ini bekerja sebagai
product line manager USB Products Atmel Corporation di Silicon
Valley, AS. Atmel adalah perusahaan terbesar keempat untuk bidang
mikrocip di Silicon Valley setelah Intel, LG (Lucky GoldStar),
dan National. Kehadiran Daniel yang sudah hampir 30 tahun tinggal
di Silicon Valley ini bukan hanya karena dia punya ikatan
emosional dengan ITB dan Bandung, melainkan jauh lebih dari itu.
Dia sedang menjajaki pengembangan usaha bidang integrated circuit
(IC) design center.
"Alasan emosional karena saya dari ITB, memang menjadi salah satu
faktor. Namun lebih dari itu, Atmel ingin mengembangkan usahanya.
Di Bandung potensi untuk itu cukup baik," ujar Daniel Tjoa kepada
Warta Ekonomi. Bagi Daniel, yang boleh dibilang menjabat posisi
penting di Atmel, pengembangan usaha yang dicari tidak hanya
dilakukan di Bandung, tetapi di belahan mana pun di dunia ini.
Menurut Daniel, pihaknya sudah menjajaki beberapa kawasan di
sejumlah negara, termasuk Perancis, Pakistan, Vietnam, Tiongkok
dan sejumlah negara lainnya.
Bagi komunitas TI Bandung sendiri, kehadiran orang seperti Daniel
sangat diharapkan. "Setidaknya ini bisa merangsang industri
bertaraf internasional lainnya datang ke sini," ujar Armien Z.R.
Langi, pengamat TI yang juga salah satu "perayu" Daniel Tjoa
untuk mengembangkan industrinya di Bandung. "Target kami adalah
Bandung bisa masuk dalam radar Silicon Valley sehingga makin
banyak yang akan melebarkan sayap usahanya ke Bandung," kata
Armien.
Sementara itu, di mata Samaun Samadikun, guru besar IC Device &
Technology Laboratory ITB, munculnya perusahaan Atmel di Bandung
akan memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perusahaan
software lokal. "Kita bisa memberi kontribusi dalam bidang sumber
daya manusia," ujarnya. Samaun lebih lanjut menuturkan bahwa
sumber daya manusia TI di Indonesia saat ini lebih banyak
mengembangkan keilmuannya di luar negeri. Kalaupun mereka
bertahan di sini, banyak yang bekerja bukan di bidangnya karena
tempat mengaplikasikan ilmunya belum ada. "Dengan adanya
perusahaan multinasional sekelas Atmel, ada kesempatan bagi
sumber daya manusia kita untuk berkreasi di dunia TI," tutur pria
yang dalam waktu dekat akan menikmati masa pensiunnya ini.
Dengan investasi sekitar US$500.000 sampai US$1 juta, sekitar
Juni tahun ini Atmel sudah siap berkiprah di Indonesia. "Sekarang
lagi mengurus aspek legal dan hal lain yang mendukung pendirian
Atmel," kata pria berusia 60 tahun ini.
Apa yang akan dilakukan oleh Atmel ternyata juga akan diikuti
oleh Marvell Technology, sebuah perusahaan dari Silicon Valley
yang juga bergerak di bidang digital signal processing.
Perusahaan yang dibangun dan dikembangkan oleh orang Indonesia,
yakni keluarga Sutarja ini, sedang didekati oleh Menperindag
Luhut Binsar Panjaitan.
Menurut sebuah sumber Warta Ekonomi, antusiasme pihak Marvell pun
tampaknya cukup positif. Bahkan tidak hanya itu, menurut sumber
tersebut, awal Maret ini Luhut akan ke Seattle, AS untuk merayu
Bill Gates agar mau ke Indonesia melihat perkembangan TI. "Dari
sini diharapkan Bill Gates mau mengembangkan usahanya di
Indonesia, tak terkecuali melihat potensi BHTV," ujar Samaun.
Keseriusan pihak Deperindag terhadap pengembangan BHTV bukan
tanpa sebab. Kajian konsultan McKinsey & Co pada 1996 menunjukkan
bahwa tahun 2010 Indonesia harus menghasilkan ekspor bidang
elektronik sebesar US$20 miliar supaya termasuk dalam golongan
negara maju. Untuk ini harus ada upaya serius, antara lain
mengembangkan industri TI. Dipilihnya Bandung sebagai salah satu
pusatnya karena potensinya yang cukup bagus. Jangan heran kalau
Luhut mengancam akan memecat bawahannya yang menghambat bisnis di
BHTV. "Pecat saja dia kalau Deperindag menghambat bisnis di
BHTV," ujarnya seperti dituturkan sumber di atas.
Kalau memang Atmel dan Marvell Technology positif dalam
mengembangkan usahanya di Bandung, setidaknya sudah ada tiga
perusahaan multinasional melakukan aktivitas bisnisnya di
Bandung. Satunya lagi adalah Omedata, sebuah perusahaan perangkat
keras yang sudah sekian lama bergerak di kota kembang ini. Dari
sini tampaknya usaha mewujudkan Bandung sebagai pusat high tech
lebih terbuka lebar.
Empat Kriteria
--------------
Seperti diungkap oleh majalah Wired edisi Juli 2000, majalah yang
banyak dijadikan acuan oleh simpatisan new economy, ada empat
faktor kesuksesan sebuah pusat high tech. Pertama, keberadaan
universitas dan fasilitas penelitian yang bisa menjadi tempat
melatih kemampuan para pekerjanya dan untuk mengembangkan
teknologi baru. Kedua, keberadaan perusahaan multinasional.
Ketiga, populasi entrepreneur. Keempat, keberadaan modal ventura.
Jika merujuk pada kriteria itu, Bandung tampaknya termasuk yang
bisa memenuhi syarat. Untuk kriteria pertama, misalnya,
keberadaan ITB di kota itu tidak diragukan lagi dalam kancah
dunia pendidikan, baik di lingkungan Asia (masuk 50 besar
universitas terkemuka Asia versi Asiaweek) maupun Indonesia,
lebih-lebih lingkungan Bandung. Begitu juga dengan keberadaan
Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telkom, Universitas Padjadjaran
(Unpad), dan beberapa universitas lainnya. Fenomena ini menjadi
salah satu ketertarikan Atmel dan beberapa perusahaan lainnya, di
samping kondisi geografis, iklim dan budaya kota Bandung.
Untuk kriteria kedua pun Bandung bisa dianggap tidak ketinggalan.
Kehadiran para pelaku bisnis di Silicon Valley menjadi salah satu
tolok ukur yang bisa menguatkan analisis di atas. Adapun untuk
kriteria ketiga, Bandung belakangan ini telah menjadi pusat
perhatian pula. Setidaknya ada 41 perusahaan software house di
Bandung yang sudah didata oleh Divisi Riset dan Teknologi
Informasi (RisTi) PT Telkom (lihat tabel).
Perusahaan-perusahaan ini diharapkan menjadi benih yang akan
membesarkan Bandung menjadi Silicon Valley. "Pertumbuhan Silicon
Valley sendiri berawal dari berkembangnya perusahaan- perusahaan
kecil sehingga menjadi sesuatu yang besar dan makin besar seperti
saat ini," ujar Daniel Tjoa mendeskripsikan sejarah Silicon
Valley.
Terlepas dari niat membangun usaha itu untuk sumber
kesejahteraannya atau untuk diakuisisi perusahaan besar--atau
bahkan untuk dilempar ke bursa (IPO)--yang jelas keberadaan
perusahaan-perusahaan ini cukup memberi arti bagi pengembangan
BHTV. Kalau merujuk pada pengalaman di negara lain, tampaknya
akuisisi merupakan cara yang relatif menguntungkan. Ini pula yang
terjadi pada perusahaan di Norwegia yang gagal memasarkan
prosesor AVR. Namun, setelah diakuisisi Atmel dengan nilai
US$10-20 juta, menjadi cukup sukses terutama bagi Atmel sendiri.
Dalam pada itu, untuk kriteria keempat, keberadaan pemodal
ventura di Bandung juga tidak boleh diremehkan. Di sana sudah
lama berkiprah Sarana Jabar Ventura (SJV), PT Permodalan Nasional
Madani Venture Capital (PNMVC) dan PT AITI Investment. Mereka
sudah melirik beberapa perusahaan untuk disuntik dana. Ini makin
menguatkan analisis di atas. "Kami sudah bermitra dengan beberapa
perusahaan yang bergerak di bidang TI seperti PT Optima yang
bergerak di bidang software, PT Elga Yasa Media sebuah provider
internet yang dikenal dengan L-Net dan Pointer, sebuah jasa
pendidikan dan layanan internet," ujar Yani Rodyat, direktur
utama SJV, kepada Warta Ekonomi suatu saat.
Meskipun demikian, ada nada sedikit pesimistis dari Budi
Rahardjo, pengamat TI yang juga salah seorang penggagas BHTV.
Menurut dia, dengan skala empat maka untuk kriteria pertama nilai
Bandung memang bisa mencapai 4. Namun untuk kriteria kedua,
ketiga, dan keempat baru mencapai nilai 1. "Jadi, total skor
untuk Bandung adalah 7, sedangkan Silicon Valley 16, Kista
Science Park di Swedia 15 dan Kuala Lumpur 8," ujar Budi.
Faktor Pendukung
----------------
Terlepas dari pendapat pesimistis dari Budi Rahardjo, empat hal
di atas tampaknya akan makin lengkap jika pemerintah dan BUMN
dilibatkan. Untuk Bandung, keberadaan institusi RisTI memang
tidak bisa dilepaskan begitu saja. Melalui ProBIS (Proyek Bandung
Industri Software), RisTI berusaha menumbuhkan kota Bandung
sebagai pusat industri software yang bertaraf internasional.
Melalui kerja sama dengan partner lokal dan global, ProBIS
menawarkan solusi bagi kebutuhan pengembangan software.
"Kami adalah fasilitator dengan menyediakan laboratorium yang
memang kami sediakan khusus untuk komunitas software house
Bandung," ujar Setyo Budi Agung, manajer proyek ProBIS, kepada
Warta Ekonomi. Bentuk kontribusi ini tergantung pada kondisi
perusahaan yang akan dijadikan mitra. "Kita melakukan pendekatan
win-win solution. Umumnya mereka adalah perusahaan yang start
up," kata Agung yang mengambil gelar master di University of
Pittsburg, AS.
Namun, ambisi Bandung menjadi Silicon Valley-nya Indonesia
sehingga mengubah semboyan Bandung Lautan Api menjadi Bandung
Lautan TI tampaknya tidak semulus jalan tol. Segudang masalah
tidak bisa begitu saja didiamkan. Kondisi infrastruktur
telekomunikasi yang masih terbatas, pelayanan aparat setempat,
khususnya dalam pengurusan administrasi masih jauh dari harapan
pelaku bisnis di Bandung.
Bagi Armien setidaknya ada tiga hal yang masih menjadi kendala
pengembangan TI di Bandung. Pertama, belum dikenalnya Bandung di
dunia luar. Kedua, infrastruktur yang masih perlu diperbaiki.
Ketiga, ketersediaan kebutuhan komponen di dalam negeri yang
masih kurang sehingga masih harus mendatangkannya dari luar
negeri. Meskipun demikian, mereka tidak mau terpaku pada kendala.
"Yang penting bukan menganalisis hambatan-hambatan yang ada,
tetapi bagaimana semangat untuk menumbuhkan Bandung sebagai
kawasan industri TI," ujar Armien.
-= Salim shahab dan Ade Rachmawati Devi =-
(reporter Warta Ekonomi)
< http://www.wartaekonomi.com/bacaberita.asp?id=659&ed=76
< http://www.wartaekonomi.com/bacaberita.asp?id=657&ed=76
< http://www.wartaekonomi.com/bacaberita.asp?id=665&ed=76
----== oOo =----
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-~>
Make good on the promise you made at graduation to keep
in touch. Classmates.com has over 14 million registered
high school alumni--chances are you'll find your friends!
http://us.click.yahoo.com/l3joGB/DMUCAA/4ihDAA/IrJVlB/TM
---------------------------------------------------------------------_->
----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.
Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.
Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:41:48 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10