Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

Re: [PIKSI-L] Why we are all alive?

From "Ikhlasul Amal" <amal @ somewhere.in.the.world>
Date Fri, 29 Jun 2001 07:47:49 +0700
Organization Kampung Angin Berdesir

[Wed, 27 Jun 2001, 19:47:01 -0700 2.3K] Indra I.A.S menulis (diedit):
% Membandingkan salary di Indonesia dengan di luar (U.S atau Singapore
% misalnya) sama dengan membandingkan becak dengan taxi. 'Kurang' apple
% to apple. 
% 
% Beberapa parameter harus dimasukkan kedalam pertimbangan "Why we are
% all alive" seperti gaya hidup, currency exchange rate dan tentu saja
% salary itu sendiri. 
% 
---end quoted text---

	[Jangan dianggap debat kusir ya...
	Soalnya seperti yang pernah aku kemukakan: ongkos perbedaan
	pendapat di Indonesia mahal, lebih mahal dari pendapatan itu
	sendiri.
	Bagi yang tidak menyukai tulisan panjang, tinggalkan saja.]

	Sebenarnya pertanyaan saya "kenapa kita masih bisa hidup" itu
	retoris saja. Pertanyaan yang tidak penting untuk dijawab secara
	eksplisit dan seketika.

	Saya sendiri tidak terlalu peduli dengan pembandingan yang saya
	kemukakan dalam hal gaji sebagai 'apple to apple' atau 'apple to
	belimbing'. Keduanya bisa sama enaknya dirasakan oleh
	penggemarnya masing-masing; dan sebaliknya, keduanya bisa
	dianggap masam menyadari posisi dan 'bargaining' mereka dalam
	percaturan rujak internasional.

	Ya, saya anggap ironi karena dengan membandingkan taksi dan
	becak itulah "kita dipaksa naik becak sambil menonton penumpang
	taksi lewat". Demikian juga penghuni kos yang merupakan pekerja
	keras dan merasa cukup dengan US$ 300 disudutkan lagi dengan
	'nina bobo' bahwa itu sudah merupakan kemewahan baginya sambil
	pada saat yang bersamaan, penghuni perumahan di Bintaro merasa
	memperoleh haknya pula gaji sepuluh kali lipatnya. Pekerja keras
	itu tidak sepatutnya dibiarkan sepanjang hidupnya kos terus atau
	tidak bisa menambah kemampuan intelektualnya karena harus
	mengirit (belum lagi liburan di 32 propinsi di negeri ini yang
	semestinya hak dia); seperti halnya bos kita di Bintaro juga
	jangan sampai berpendapat karena rezeki sudah diatur 'dari
	sana', maka wajar saja kalau dia terus dan terus mengumpulkan
	kapital hanya dengan alasan, "Buat bayar telepon saja, saya
	habis 5juta setiap bulan."
	
	Itu nestapa dunia, sementara kapital semakin bertimbun,
	menumpuk-numpuk di Negara-negara Utara, di Selatan kita diberi
	lagu indah, "Karena negara kalian bermandikan cahaya matahari,
	air tercurah dari langit, udara kalian masih bersih, itu sudah
	cukup dengan hidup sekedarnya."

	Soal standar hidup dan indeks kebutuhan? Diam-diam saya tambah
	meyakini bahwa sekarang ini sebenarnya ongkos konsumsi semua
	bangsa sebenarnya sudah hampir sama. Sebagian orang berdalih,
	karena di Jakarta pekerja kerah-biru ('blue collar', eufimisme
	internasional untuk kaum buruh) dapat makan di Warteg cukup
	dengan USD 0.25, maka disebut-sebut biaya hidup lebih murah.
	Barangkali iya, karena sayur diolah diperoleh dari Krawang
	dengan harga murah dan sangat jauh di bawah kelayakan untuk
	kehidupan penanam sayur itu sendiri.

	Terus lihat kualitas hasil biaya hidup murah itu: makanan penuh
	karbohidrat kurang protein, air minum campur raksa, buku-buku
	bermutu jumlahnya terbatas karena penulis kita dibayar murah dan
	karena pembeli buku hanya sebagian orang yang itu pun
	mengalihkan dana lainnya untuk konsumsi bacaan. Sampai-sampai
	yang disebut 'factory outlet', tempat busana dan perlengkapan
	dijual, menjual barang dengan stempel 'rejected'. Apalagi pasar
	kaget dan Cibadak Mall: itu kontainer berisi sampah dari
	negara-negara jiran dan disini *masih* harus dibeli...

	Tentang nilai-tukar mata uang, saya tahu itu sudah menjadi
	pranata yang dianut oleh mayoritas negara di dunia. Lupakan
	saja, saya tetap tidak bisa terima sekumpulan orang berjual-beli
	mata uang, menaik-turunkan indeks, dan menyandera perdagangan
	sektor riil seenaknya.

	Ya, sekali lagi, alhamdulillah, kita semua masih hidup. Kalau
	menurut istilah Putu Wijaya dalam salah satu tulisan di Tempo
	beberapa puluh tahun silam, kita semua adalah bangsa "Superman"
	yang dengan pat-gulipat bisa bertahan dengan penghasilan di atas
	kertas di bawah kebutuhan-hidup. Fachry Ali juga menulis bahwa
	pembangunan berhasil lebih-lebih karena jutaan buruh yang
	menegakkan gedung-gedung itu dibayar dengan ongkos murah.

-- 
amal
	Ayo tersenyum: negeri ini memerlukannya


----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.

Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.

Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 


 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:01 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10