Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

[PIKSI-L] FW: Bila Hati Berbalut Cemas

From Asep Abdurohman <IMCEAEX-_O=TRISULA_OU=TTI_CN=RECIPIENTS_CN=ASEPA @ somewhere.in.the.world>
Date Tue, 2 Apr 2002 13:29:57 +0700

Mudah2an berguna. Salam.
-asp-
-----Original Message-----
From: Hidayatudin 
Sent: Monday, April 01, 2002 9:17 PM
To: TTI_Compensastion; TTI_Cost_Accounting; TTI_DA; TTI_DA_Process;
TTI_Warehouse; TTI_Weaving; TTI_Weaving_QC; Nidiya Fitriya; Dedy Suroso;
Dian Kurniawan; Johan Prabandono; Asep Abdurohman; Andi Sulistiono; Adinda;
Dadi Sampurno; Dana Lesmana; Ike Djulaeka; Rahmanto; Risdaini; Said Syahar
Subject: Bila Hati Berbalut Cemas


Bila Hati Berbalut Cemas

Oleh KH. Abdullah Gymnastiar

 
 "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang,
kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang
beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi
petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu." (QS at-Taghabun [64]:11)
 
Sebagian besar manusia hampir tidak pernah bisa
memahami apa arti hidup ini. Tidak tahu tujuan dan
harus bagaimana bersikap dalam hidup yang serba
singkat ini. Ciri khas yang paling standar ialah
hidupnya selalu tenggelam dalam ketidakteteraman
batin, merasa cemas, was-was, serba takut, rendah
diri, merasa gagal, dan hati yang selalu terasa kacau
balau.

Persis seperti orang yang masuk ke dalam hutan
belantara. Walaupun ia berbekal ransel penuh dengan
makanan, minuman, pakaian tahan nyamuk dan tahan
dingin, dompet penuh dengan uang, serta senjata yang
lengkap, tetapi kalau sama sekali tidak tahu seluk
beluk hutan, tidak tahu cara menembusnya, serta tidak
tahu cara menundukkan binatang buas yang berkeliaran
di dalamnya, niscaya dirinya akan dicekam berbagai
perasaan tadi.

Akhirnya, tidak bermanfaatlah segala bekal yang
dimilikinya. Uang menjadi tidak berharga karena tidak
tahu harus dibelikan apa dan dimana. Dirinya serta
merta berubah menjadi kikir terhadap makanan dan
minuman yang dimilikinya manakala teman
seperjalanannya meminta. Karena, ia tidak tahu stok
makanan dan air yang sebenarnya melimpah ruah di dalam
hutan.

Pikirannya pun senantiasa tegang dan curiga terhadap
segala keadaan karena kuatir akan serangan binatang
buas pada dirinya. Ketika mendapati jurang atau
dinding terjal, muncul rasa cemas, takut, dan was-was
karena tidak tahu harus berpegangan kemana. Ketika
tiba di tanjakan yang terjal menjulang, serta merta
mulutnya mengeluh dan putus asa karena tidak tahu
ujung perjalanan. Walhasil, lengkaplah sudah
penderitaannya sepanjang perjalanan.

Padahal, semua tangtangan, ancaman, dan kesulitan itu
sama sekali tidak ada artinya bagi orang yang telah
mengenal persis seluk beluk dan rahasia hutan
tersebut. Kita ambil contoh Tarzan, si manusia hutan.
Kita saksikan dalam kisahnya, betapa Tarzan selalu
riang gembira menerobos segala kesulitan, rintangan
serta gawatnya hutan belantara.

Praktis sang Tarzan efektif segala tindakannya. Bekal
yang ia bawa pun seadanyan, karena toh ia sudah tahu
segala yang terkandung di dalam hutan tersebut. Mulai
dari buah-buahan, sumber mata air atau biantang
buruan, alangkah mudah didapat. Pakaiannya pun sangat
sederhana karena ia tahu tempat-tempat yang hangat
untuk berlindung dari hujan dan dinginnya malam hari.

Sirnalah segala kecurigaan terhadap aneka bahaya yang
mungkin datang dari sekelilingnya, diganti dengan
kewaspadaan. Adapun kemungkinan datangnya gangguan dan
rintangan, sama sekali tidak mencemaskan pikirannya
karena ia sudah tahu cara-cara mengatasinya.

Begitupun ketika melewati jurang yang curam;
perasannya tidak tegang karena sudah tehu persis
akar-akar yang kuat yang dapat ia jadikan pegangan.
Sementara untuk mendaki tanjakan atau tebing yang
terjal sekalipun ia samasekali tidak mengeluh. Karena,
selain mengetahui cara mendakinya, ia pun sudah mampu
mengukur dimana ujung dakiannya. Walhasil, semua hal
yang dapat menyulitkan dan menyengsarakan ternyata hal
itu mudah saja bagi sang Tarzan. Karena, ia memiliki
kunci pokok untuk mengatasi semua permasalahan dan
segala kebutuhannya tersebut. Itulah, ilmu. Ya, Tarzan
tahu benar ilmu mengenai seluk-beluk hutan cara-cara
mengatasinya.

Jadi, jangan sekali-kali bermimpi dapat hidup tenang
dan bahagia sekiranya kita belum memiliki ilmu yang
benar untuk mengarungi belantara dunia yang penuh
dengan jebakan, rintangan dan ancaman yang berbahaya
ini.

Adapun ilmu untuk mengatasi itu semua hanya satu,
yakni ilmu dari Dia, Dzat yang menciptakan dunia
beserta isinya. Itulah al-Islam, dengan pedoman
pokoknya al-Quran dan as-Sunnah. Semua rahasia
kehidupan dunia dan akhirat dibeberkan dengan sempurna
dan cermat di dalamnya, sehingga tidak ada satupun
urusan, kecuali mesti ada rahasia jalan keluarnnya.

Dengan demikian, kalau toh hidup ini kerap kali
dicekam perasaan yang kacau balau dan menyengsarakan,
maka penyebab pokoknya adalah karena kita kurang
memahami ilmu agama dengan benar.

Dalam sebuah hadits dinyatakan, pada suatu ketika
datanglah seseorang kepada Ibnu Mas'ud ra, sahabat
Rasulullah saw, untuk meminta nasihat. Ujarnya, "Wahai
Ibnu Mas'ud, berilah nasihat yang dapat kujadikan obat
bagi jiwaku yang sedang dilanda kecemasan dan
kegelisahan. Dalam beberapa hari ini aku merasa tidak
tenteram. Jiwaku selalu gelisah dan pikiran pun serasa
kusut maasi. Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak.

Mendengar itu, Ibnu Mas'ud pun kemudian menasihatinya.
Ucapnya, "Kalau penyakit seperti itu yang menimpamu,
maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu ke
tempat orang yang membaca al-Quran, kau bacalah
al-Quran atau dengarkanlah baik-baik orang yang
membacanya; atau pergilah ke majelis pengajian yang
mengingatkan hati kepada Allah; atau carilah waktu dan
tempat yang sunyi, kemudian ber-khalwat-lah untuk
menyembah-Nya. Misalnya, di tengah malam buta, ketika
orang-orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun
mengerjakan shalat malam, memohon ketenteraman jiwa,
ketenteraman pikiran dan kemurnian hati kepada-Nya.
Seandainya jiwamu belum juga terobati dengan cara ini,
maka mintalah kepada Allah agar diberi hati yang lain,
karena hati yang kau pakai itu bukan hatimu."

Setelah itu, orang itu pun kembali ke rumahnya.
Diamalkanlah nasihat Ibnu Ma'ud tersebut. Dia pergi
mengambil air wudlu. Selanjutnya diambilnya
al-Qurandan dibaca dengan hati yang khusyu. Selesai
membaca al-Quran, ternyata jiwanya berubah menjadi
sejuk dan tenteram. Pikirannya pun menjadi tenang,
sedang kegelisahannya menghilang samasekali.

-------------------------------------------------------
KH. Abdullah Gymnastiar, Pimpinan Pondok Pesantren
Daarut Tauhiid Bandung, bisa dihubungi melalui
aagym @ somewhere.in.the.world 

 

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Stock for $4.
No Minimums.
FREE Money 2002.
http://us.click.yahoo.com/6GDALA/VovDAA/ySSFAA/IYOolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.

Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.

Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 


 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:09 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10