Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | "asep212" <asep212 @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Thu, 20 Jun 2002 05:44:03 -0000 |
| User-agent | eGroups-EW/0.82 |
menarik membaca kegilaan Korea atas sukses bola mereka. selain hadiah2 yg bakal diterima, ada "jalan hiddink" yg katanya akan digunakan dlm manajemen Samsung sebagai sebuah inovasinya Hiddink selain teknik dlm sepakbola, ada peringatan Hari Hiddink, dll. ujung2nya cerita membandingkan dg Indonesia, jadi prihatin deh. Gimana nih Gus gus yg ada di Indonesia :p -asp- "http://www.pialadunia.com/berita/2002/06/20/20020620-115100.shtml" Menelusuri 'Jalan Hiddink' Reporter : Titis Widyatmoko pialadunia - Jakarta Tele Santana boleh menemukan jogo bonito, Rinus Michels memperkenalkan total football dan Enzo Bearzot mempopulerkan catenaccio. Tapi orang Korea tidak peduli karena bagi mereka hanya ada satu paham yang harus dianut, "Jalan Hiddink". Guus Hiddink lah orang yang mempopulerkan sebuah cara atau paham yang diyakini punya andil terbesar dalam keberhasilan Korea Selatan menembus perempatfinal Piala Dunia 2002. "Jalan Hiddink" bukanlah nama jalan seperti Jl. Jean Todt yang diberikan kepada manajer Ferrari itu di tanah kelahirannya Pierrefort, Prancis. "Jalan Hiddink" lebih mirip dengan "Jalan Ketiga" yang telah ditawarkan Anthony Giddens. Hiddink telah menemukan sebuah rute bagaimana dia menyulap sebuah tim yang tidak ada apa-apanya menjadi berisi. Setelah Hiddink sukses membawa Korea Selatan pertamakalinya dalam sejarah lolos ke perdelapan final Piala Dunia, seketika itu juga "Jalan Hiddink" menjadi populer. Seo Jee Yeon, dalam sebuah artikelnya di Korea Times memaparkan bagaimana perusahaan-perusahaan besar Korsel ingin segera mengadopsi "Jalan Hiddink". Samsung Grup dilaporkan ingin agar manajemen dan pekerjanya segera menerapkan dedikasi yang teguh dan pola kepemeimpinan seperti yang sudah ditunjukkan oleh Hiddink. Hanya dengan mengikuti "Jalan Hiddink", Samsung menilai perusahaannya bisa berkembang menjadi pemimpin di dunia global yang makin kompetitif. Universitas Sogang di Korea telah mengumumkan siap memberi gelar doktor honoris causa di bidang manajemen kepada Hiddink atas pengaruh yang telah disebarkannya ke seluruh negeri. Korsel seperti meledakkan pujiannya pada Hiddink, karena mereka sudah mendapatkan harapan setelah menunggu selama 18 bulan kepemimpinan Hiddink. Apa sebenarnya "Jalan Hiddink" itu? Marilah kita telusuri. Menurut Samsung Econoimic Researh Insitute (SERI) sebuah lembaga think-thank di Korsel, Hiddink terkenal dengan inovasi tiada henti, selalu menunjukkan pendirian yang tidak mudah guncang dan fair dalam memilih prajuritnya. Salah satu contoh menarik ditunjukkan Hiddink sejak pertamakali datang ke Semenanjung Korea. Yang pertamakali dia lakukan adalah menguji dan memilih pemain mana yang bisa melakoni standar bermain internasional. Hiddink membuat banyak perubahan di minggu pertama dimana ada pemain yang sepakat dengannya ada pula yang menolak. "Hanya ada sembilan pemain yang tersisa dari tim asli," ujar Hiddink dalam wawancara dengan majalah Time jauh hari sebelum Piala Dunia. Standar internasional bagi Hiddink adalah pemain yang cepat dan atletis. Hiddink juga telah merombak kultur tradisional Korea yang sangat menghormati hirarki. Hiddink mengaku datang dan menjumpai pengelompokan di timnas dalam tiga grup besar."Mereka susah berhubungan dengan yang lain karena masih memelihara penghormatan terhdap hirarki. Lalu aku campur mereka dan sekarang mereka bisa saling bicara dan bahkan bertegur sapa di lapangan," kata Hiddink. Hiddink juga terkenal dengan keberaniannya mengambil risiko dan kepatuhannya terhadap strategi menyerang di sepakbola. Itu ditunjukkan Hiddink ketika Korsel melawan Italia dan ketinggalan 0-1. Hiddink saat itu memainkan lima pemain yang berkarakter striker. Hiddink berani mengganti dua bek dengan dua striker dan mamasang gelandang serang, Yoo Sang Chul sebagai libero. Dengan semua keteguhannya yang telah dipertunjukkannya, pantas jika Hiddink mampu mencapai semua tujuannya. Kabar terakhir melaporkan, "Jalan Hiddink" malah bukan hanya sekadar paham. Pemerintah kota Kwangju siap mengabadikan nama Hiddink menjadi sebuah nama jalan. Beberapa orang mengharapkan tanggal 14 Juni dimana Korsel lolos ke perdelapanfinal dijadikan "Hari Hiddink". Yang lain membuat proposal agar patung Hiddink didirikan di Stadion Piala Dunia Seoul. Itu yang baru rencana. Yang sudah terealisir, Hiddink menerima tawaran kewarganegaraan Korsel kapan pun mau. Hiddink mendapat hadiah empat tahun pelesir gratis dengan pesawat Korea Airlines kemanapun dia mau. Selain tentu, jutaaan dolar akan mengucur ke rekeningnya. Kalau penulis boleh mengungkapkan rasa sedihnya. Mengapa dari sekian banyak pelatih asing di Indonesia, seperti Tony Poganik, Joseph Mazopust, Tord Grip (sekarang asisten Sven Goran Eriksson), Romano Matte, Polosin dan Urin, Jalal Talebi, Bernard Schumm, Henk Wullems tidak ada satu pun yang bisa menjadi seperti Hiddink. Padahal, tidak sedikit dari mereka punya kemampuan berkelas. Mengapa?(tis) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Free $5 Love Reading Risk Free! http://us.click.yahoo.com/3PCXaC/PfREAA/Ey.GAA/IYOolB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> ---------- Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi, ITB, Indonesia. Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali* tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal. Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:11 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10