Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

[PIKSI-L] Peta Bisnis m-Commerce, Cash or Phone?

From "asep212" <asep212 @ somewhere.in.the.world>
Date Tue, 30 Jul 2002 03:59:45 -0000
User-agent eGroups-EW/0.82

mencermati m-commerce mungkin satu saat orang tidak lagi bilang "cash
atau credit" tapi "cash or phone?"

dari "http://www.wartaekonomi.com/detail.asp?aid=122&cid=1"

link lain:
- Kolom Jos Luhukay: Jika m-Commerce Membalap e-
Commerce "http://www.wartaekonomi.com/detail.asp?aid=121&cid=2"
- Peta m-Commerce Indonesia "http://www.wartaekonomi.com/detail.asp?
aid=114&cid=6"

regards,
-asp-

Peta Bisnis m-Commerce, Cash or Phone?

Senin, 8 Juli 2002 16:19 WIB - wartaekonomi.com

Saat ini bidang bisnis perbankan penerbangan, perhotelan, travel,
pelayanan publik, dan media informasi & hiburan dianggap paling
eligible untuk melakukan m-commerce.


Telepon selular dan internet adalah dua fenomena yang paling menarik
menjelang akhir abad lalu. Fenomena yang dimulai pada tahun 1990-an
itu banyak merevolusi cara-cara berbisnis. Apalagi, perkawinan dari
kedua teknologi melahirkan mobile internet, yang lagi-lagi melahirkan
the new way of doing business. Inilah cara baru berbisnis yang dapat
dilakukan dari mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja.

Memang, secara umum, hal ini masih merupakan potensi. Namun, lihat,
apa yang terjadi pada i-mode di Jepang, yang kini sudah berhasil
diekspor ke Belanda. Bayangkan, tak lama setelah NTT Docomo
meluncurkan layanan i-mode pada Februari 1999, jumlahnya langsung
meningkat drastis. Pada akhir tahun 2000 saja jumlahnya sudah
mencapai 25 juta. Diperkirakan, pada akhir tahun 2001, seluruh
pemakai ponsel di Jepang sudah terkoneksi ke internet.

Tak heran kalau dalam satu dekade ke depan, mobile internet akan
menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari dan aktivitas bisnis.
Mobile internet akan mengembangkan dan menyederhanakan cara kita
bergaul dengan teman dan keluarga, cara kita berbisnis, cara kita
berbelanja, cara kita memperoleh hiburan, cara kita mengelola
keuangan, dan lain-lain.
Mobile internet dipandang dari sisi bisnis dikenal dengan terminologi
mobile business. Dan, dari mobile business ini lahirlah apa yang
disebut mobile commerce (m-commerce). Apa m-commerce itu? Menurut
definisi Ericsson, m-commerce adalah jasa transaksi terpercaya
melalui mobile devices untuk pertukaran barang dan jasa antara
konsumen, pedagang, dan institusi finansial. Namun, karena merupakan
sesuatu yang baru, maka definisi dari satu pihak yang sudah pasti
memandang dari sisi kepentingannya pasti belum mewakili kepentingan-
kepentingan yang lain. Karena itulah Warta Ekonomi mengadakan diskusi
panel, yang selain mencari definisi m-commerce, juga mencari bentuk-
bentuk inovasi yang dilakukan dalam bidang ini. Supaya pandangannya
tidak terlalu kejauhan, maka inovasi-inovasi yang dibayangkan para
peserta diskusi dibatasi sampai satu tahun ke depan.


Definisi dan Spektrum m-Commerce
Menurut Agung Bowo Laksono, general manager Value Added Services
(VAS) Marketing & Development PT Excelcomindo Pratama, m-commerce
dipandang dari sisi operator ponsel adalah salah satu jasa pelayanan
nilai tambah dan merupakan bagian dari bisnis inti. Pada intinya,
lanjut Agung, m-commerce itu adalah kegiatan bisnis yang melakukan
transaksi melalui mobile devices. 'Selama itu terjadi transaksi atau
perpindahan uang, itu kita kategorikan sebagai m-commerce,' ujarnya.
Sementara itu, dari sisi penyedia infrastruktur, Dominikus Susanto,
mobile internet & system alliance manager dari Divisi Mobile Internet
& Sistem Integration PT Ericsson Indonesia, melihat m-commerce itu
adalah salah satu aplikasi, atau salah satu pemacu berjalannya
industri mobile internet. Menurut dia, orang di zaman sekarang tidak
lagi menggunakan mobile device-nya hanya untuk menelepon atau SMS,
tetapi bisa juga untuk membayar. 'Jadi, mungkin pada suatu saat nanti
orang tidak lagi bertanya cash or credit, tetapi cash or phone?'
ujarnya. Dengan kata lain, lanjut dia, fungsi uang cash yang kini
bisa digantikan dengan uang plastik (baik kartu kredit maupun kartu
debet) suatu saat bisa saja diganti dengan pulsa.

Bagaimana dengan pemakai? Di mata Wirono Sabrawi, senior vice-
president Bank Bumiputera, m-commerce adalah peluang bisnis yang
sangat besar. Hal ini, lanjutnya, karena ponsel itu selalu dibawa
orang, sehingga akses untuk menjangkau end user-nya sekarang lebih
tinggi dibanding model yang lain. 'Bagi perbankan, fungsinya sebagai
financial instrument kliring akan besar sekali. Kita bisa menjadi
fasilitator bagi pihak-pihak yang akan menjual barang via mobile
devices,' tegas Wirono.

Sementara itu, Eddie R. Darajat, chief operating officer PT MVision
Indonesia, melihat berbagai perubahan cara berbisnis dengan adanya m-
commerce ini. Salah satunya adalah m-wallet. Inilah uang plastik yang
bisa 'dibeli' seperti membeli kartu telepon pascabayar. 'Kalau sudah
kosong, maka isu m-wallet tersebut bisa diisi lewat ponsel,' ujar
Eddie.
Dengan demikian, menurut Eddie, produk ini bisa menjangkau masyarakat
kas (cash so- society ciety ciety) yang tidak bankable bankable.
Artinya, seseorang dapat memiliki m- wallet sejenis kartu debet yang
pengisiannya bisa dilakukan melalui ponsel tanpa harus menjadi
nasabah bank terlebih dahulu. Nantinya, kata Eddie, produk tersebut
dapat dijual di mana saja, termasuk di kios-kios kecil di pinggir
jalan. Memang, diskusi dibuat sedemikian terbuka. Hal itu dilakukan
agar diskusi ini tidak menjadi diskusi ilmiah yang berpretensi
mencari masukan dari buku-buku ilmiah dengan batasan-batasan yang
ketat, tetapi lebih sebagai kajian terhadap fakta-fakta yang sudah
terwujud di lapangan. Penekanan lapangan ini begitu penting, karena
perubahan di lapangan terus terjadi. Dengan demikian, definisi yang
dibuat beberapa waktu yang lalu sangat mungkin berubah seiring dengan
berbagai inovasi yang dilakukan.

Sebagai pembanding, maka kajian-kajian yang sudah dibakukan oleh
suatu lembaga dijadikan masukan. Salah satunya dari Siemens. Menurut
sistematika Siemens, mobile business cara pandangnya dibagi menjadi
enam bagian. Pertama, mobile commerce, yang terdiri dari perbankan,
perdagangan, pembelian, ticketing, pelelangan, travel management, dan
lain-lain. Kedua, mobile info-services, yang terdiri dari informasi
cuaca, pasar modal, berita, akses internet, jasa penetapan lokasi,
dan sebagainya. Ketiga, mobile services, yang terdiri dari jasa
perbaikan, emergency, pengontrolan, serta jasa-jasa telematika
lainnya. Keempat, mobile communication, yang terdiri dari komunikasi
suara, pesan-pesan, SMS, mobile multimedia, dan sebagainya. Kelima,
mobile entertainment. Yang termasuk dalam hal ini adalah hiburan
musik, video, games, lotre, dan sebagainya. Keenam, mobile office.
Ini menyangkut e-mail, penjadwalan, dan directory.

Dengan memakai peta Siemens sebagaiperbandingan, pada akhirnya Warta
Ekonomi mengambil definisi m-commerce yang spektrumnya meliputi m-
commerce versi Siemens (perbankan,  perdagangan, pembelian,
ticketing, pelelangan, travel management, dll.), mobile info-service
(saham, berita, pelacakan lokasi), dan mobile entertainment. Mungkin,
hal ini akan mengundang beberapa pertanyaan. Misalnya, mengapa info-
service seperti saham, berita, dan pelacakan dimasukkan ke dalam m-
commerce? Untuk saham, dalam satu tahun ke depan, kemungkinannya
terbuka untuk diperdagangkan lewat mobile devices. Apalagi, saat ini
BEJ sudah menerapkan remote trading, yang akan disusul dengan online
trading. Menurut 'kebiasaan' e-business, setelah proses online
trading (e-commerce), mestinya m-commerce akan menyusul.

Berita juga diramalkan bisa menjadi informasi yang layak
diperjualbelikan melalui mobile sevices. Paling tidak, kini Detik.com
sudah menawarkan produk yang harus dibayar kalau ingin melihat.
Memang, hal itu masih melalui desktop. Namun, di masa depan, diduga
cukup banyak eksekutif yang membutuhkan berita-berita tertentu lewat
PDA atau ponselnya dan rela merogoh koceknya untuk mendapatkan berita
tersebut. Akan halnya layanan pelacakan lokasi, kini sudah diberikan
oleh beberapa perusahaan jasa pengiriman (kurir).

Mobile entertainment juga berpotensi untuk diperjualbelikan lewat
mobile devices, baik itu berbentuk musik, video, games, atau lotre.
Saat ini penjualan ringing tone, misalnya, merupakan langkah awal
sebelum mencapai tahap musik yang lebih sempurna. Penyempurnaan
berbagai mobile devices akan sangat mendukung upaya ke arah m-
commerce di bidang ini.

Definisi m-commerce di sini juga tidak mensyaratkan harus melibatkan
tiga pihak sekaligus, yakni konsumen, pedagang, dan institusi
keuangan seperti yang didefinisikan Ericsson. Pertimbangannya, m-
commerce merupakan 'barang baru' di Indonesia. Pendefinisian yang
terlalu ketat akan mengeliminir potensi-potensi m-commerce Indonesia
di masa depan. Padahal, potensinya sangat besar. Dengan demikian,
pada intinya m-commerce adalah perdagangan via mobile electronic
devices untuk pertukaran barang dan jasa. Pembayarannya bisa melalui
mobile devices, bisa juga menggunakan cara lain.


Inovasi-Inovasi m-Commerce
Jelas sudah bahwa teknologi mobile telah membuat berbagai perubahan
dramatis dalam tata cara berbisnis dan melakukan berbagai kegiatan.
Berdasarkan elemen-elemen m-commerce yang terdiri dari institusi
layanan keuangan, content provider, infrastructure provider, dan
operator selular, maka Warta Ekonomi pun meringkas berbagai bentuk
inovasi m-commerce yang mungkin dilakukan dalam satu tahun ke depan.

Dari sisi perbankan sebagai payment gateway, misalnya, pada intinya
akan melakukan berbagai perluasan layanan. Saat ini, bank-bank yang
sudah menerapkan m-banking sedang melakukan berbagai penambahan
fitur, seperti transfer, membayar kartu kredit, mengecek kurs valas,
atau mengecek dan membayar tagihan PLN, PAM, dan lain-lain.
Di samping itu, perbankan juga akan melakukan pendalaman pelayanan.
Yang dimaksud dengan pendalaman, misalnya saja, peningkatan jumlah
yang bisa ditransfer sejalan dengan membaiknya persepsi tentang
keamanan (security). Kerja sama dengan para operator ponsel juga
diperkirakan akan meningkat. Saat ini sebagian bank melakukan kerja
sama eksklusif dengan satu operator, sementara ada juga bank yang
melakukan kerja sama lintas operator. Tampaknya jumlah bank yang akan
melakukan kerja sama lintas operator akan bertambah banyak dalam
waktu singkat.

Dari sisi content provider, cukup banyak kreativitas yang dilakukan.
Beberapa produk yang muncul, misalnya solusi mpayment, m-wallet, m-
gaming, m-banking, cara perhitungan pajak (PPh 21), penjualan polis
asuransi, ticketing, travel management, viral marketing, dan lain-
lain. Kemungkinan kreasi di masa depan cukup terbuka.

Kini, teknologi GPRS sudah diimplementasikan, dan akan bertambah
dalam waktu singkat, oleh satu operator ponsel. Dari sisi
infrastruktur, dalam satu tahun ke depan, diperkirakan tidak banyak
perkembangan yang berarti. Walaupun begitu, ada juga yang
memperkirakan dalam satu tahun ke depan akan diimplementasikan
teknologi EDGE, dengan kecepatan transfer data sebesar 384 kbps
(kilobit per sekon) di atas GPRS yang mempunyai kecepatan 115 kbps.

Sementara itu, bagi operator ponsel, bentuk-bentuk inovasinya lebih
berfokus pada kepuasan konsumen. Artinya, pihak operator ponsel pada
intinya ikut memanfaatkan infrastruktur GPRS untuk memperluas kanal
percakapan dan data services. Di samping itu, beberapa operator juga
membuat berbagai layanan m-commerce lewat portalnya masing-masing.


Bidang Yang Cerah dan Yang Belum
Dari rapat internal redaksi dan bagian riset yang sudah mendapatkan
masukan dari pihak-pihak terkait di lapangan didapatkan 13 bidang
usaha yang sudah bisa menjalankan m-commerce. Ke-12 bidang itu adalah
perbankan, asuransi, ritel, pengelolaan sistem perpajakan, jasa
kurir, penerbangan, perhotelan, travel, pelayanan publik, media
informasi & hiburan, media massa, perdagangan saham, dan property.

Dari sini, tim diskusi kemudian mendefinisikan bentuk bisnis m-
commercenya, menilai tingkat adopsi masyarakat, prospek bisnis, dan
tingkat kompetisi. Tampaknya tidak semua bidang usaha mempunyai masa
depan yang cerah. Hal ini terutama bisa disebabkan tingkat adopsi
masyarakat yang rendah dan prospek bisnis yang kurang cerah. Di
samping itu, perlu juga mempertimbangkan tingkat kompetisinya.

Kendati demikian, dari ke-12 bidang usaha tersebut, ada enam bidang
usaha yang diduga mempunyai masa depan bagus untuk mempraktekkan m-
commerce, yakni: perbankan, penerbangan, perhotelan, travel,
pelayanan publik, dan media informasi & hiburan. Pada intinya, keenam
bidang usaha ini mempunyai penilaian yang baik dari sisi tingkat
adopsi masyarakat, prospek bisnis, dan tingkat kompetisi.

Keenam bidang ini pada umumnya mempunyai konsumen yang kelas sosial
ekonominya termasuk golongan menengah ke atas, mempunyai sikap
terbuka terhadap perubahan, dan menyukai teknologi baru sebagai
penolong dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian, mereka relatif
cepat mengadopsi tawaran-tawaran cara berbelanja yang didukung oleh
teknologi tinggi.  Perbankan, misalnya. Dengan derajat m-commerce
yang berbeda-beda, sudah cukup banyak bank yang menerapkan mobile
banking. Pada umumnya, jumlah nasabah mereka yang memanfaatkan m-
commerce (disebut m-banking) terus meningkat dari waktu ke waktu.
Demikian juga jumlah uang yang ditransaksi melalui m-banking.
Penerbangan, perhotelan, dan travel juga dianggap mempunyai masa
depan yang baik untuk menerapkan m-commerce. Harap maklum, orang-
orang yang memanfaatkan jasa ini pada umumnya adalah orang-orang
sibuk yang sangat membutuhkan kepraktisan. Karena mobilitas mereka
yang tinggi, maka jasa m-commerce tentunya sangat mendukung untuk
memenuhi kebutuhan mereka.

Sementara itu, bidang usaha media informasi & hiburan dianggap
pelopor yang sudah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan. Paling
tidak, hal ini bisa dilihat dari keberhasilan penjualan ringing tone,
atau permintaan akan informasi hiburan, seperti jadwal bioskop. Untuk
pelayanan publik, cerahnya prospek usaha ini lebih karena banyaknya
jenis pelayanan yang bisa dilakukan lewat cara ini, misalnya
pembayaran listrik (PLN) dan air minum (PAM).

Adapun bidang-bidang usaha lainnya yakni asuransi, ritel, pengelolaan
sistem perpajakan, jasa kurir & distribusi, media massa, perdagangan
saham, dan property dianggap belum cerah di masa sekarang. Disebut
belum cerah, karena kemungkinan berkembang masih terbuka. Kendati
demikian, karena karakteristiknya, bisa juga memang ada bidang-bidang
usaha yang tidak akan berkembang untuk waktu yang lama.

Misalnya saja, ritel. Yang terjadi pada LippoShop yang antara lain
mencoba menawarkan barang-barang ritel lewat SMS membuktikan bahwa
perdagangan eceran lewat pola m-commerce (dan mungkin juga e-
commerce) belum akan berkembang dalam waktu yang lama. Hal ini
disebabkan masyarakat kita belum membutuhkan gaya belanja digital.
Mereka lebih suka datang dan menyentuh langsung barang-barang yang
akan dibelinya. Di samping itu, proses belanja langsung juga dianggap
sebagai rekreasi.

Akan halnya perdagangan saham ala m-commerce, kini masih bersifat
pemberitahuan lewat SMS. Sebenarnya sudah ada perusahaan content
provider yang mencoba menawarkan perdagangan saham lewat SMS. Namun
karena dikhawatirkan pesannya tidak masuk, atau terlambat masuk maka
banyak pihak yang kurang tertarik. Maklum, proses pembelian saham
sangat tergantung pada kecepatan. Kalau masalah akses dan kecepatan
ini bisa diatasi, sebenarnya perdagangan saham sangat eligible untuk
menerapkan m-commerce. Untuk sistem penghitungan perpajakan, agak
diragukan mengapa harus dilakukan melalui m-commerce, karena
menghitung pajak biasanya semestinya bisa dilakukan dengan tenang di
kantor atau di rumah.

Untuk jasa kurir dan distribusi, penerapan m-commerce hanya sebatas
pada penelusuran (tracking) posisi barang saja. Sampai saat ini,
proses itu hanya merupakan bagian dari proses pengiriman barang. Di
masa depan, masih ada kemungkinan pengecekan barang dijadikan proses
terpisah. Dengan demikian, pembayarannya juga bisa bersamaan dengan
saat pengecekan. Di bidang asuransi, proses penawaran dan pembelian
polis hanya bersifat layanan pelengkap saja. Pasalnya, ketika proses
pembelian polis memerlukan pertimbangan yang matang, dibutuhkan waktu
yang lama untuk  memprosesnya. Untuk properti, masih sebatas
pemberian informasi. Media massa? Tampaknya juga hanya sebagai
pelengkap. Maklum, mencari berita di jalan kini bisa dilakukan lewat
radio yang menyajikan berita 24 jam atau media cetak yang ditawarkan
di setiap sudut jalanan.


Yahoo! Groups Sponsor
Click here for more selections... Click here to visit LensExpress.com Avucue2 Colours ACUVUE Disposables FreshLook Colorblends Disposables Focus Night & Day Continous Wear Get Wild... with Wild Eyes!
Click here to find your contact lenses!

----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.

Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.

Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l


Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:11 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10