Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

[PIKSI-L] Skenario di Balik 'Bom Bali'

From "asep212" <asep212 @ somewhere.in.the.world>
Date Tue, 15 Oct 2002 10:45:15 -0000
User-agent eGroups-EW/0.82

ini mungkin bisa menjelaskan mengapa sang teroris yang ahli ini 
dengan sengaja meninggalkan satu buah KTP di tempat kejadian

salam,
-asp-

Selasa, 15 Oktober 2002
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=99231&kat_id=16

Skenario di Balik 'Bom Bali'
Oleh : Eggi Sudjana MSi 

Ledakan bom berkekuatan besar di tempat hiburan di Legian, Kuta, 
Bali, Sabtu Malam (12/10), membuat Indonesia kembali menjadi sorotan 
dunia internasional. Tragedi yang menewaskan sekitar 180 orang -- 
dan lebih dari 200 orang lainnya terluka, kebanyakan warga 
Australia, serta beberapa negara lain seperti Swiss, Kanada dan 
Jerman -- itu ditengarai sebagai tragedi kemanusiaan terbesar 
setelah tragedi peledakan pesawat ke gedung WTC dan Pentagon, 
September tahun lalu.

Para pemimpin dunia, di antaranya Presiden AS, Bush, Menlu Jerman, 
Yosca Ficser, dan Menlu Australia, mengecam dan mengutuk keras 
tindakan biadab tersebut. Selain mengutuk keras, Presiden Megawati 
juga meminta masyarakat agar tenang dan meningkatkan kewaspadaan, 
serta menyampaikan duka yang mendalam dan simpati kepada keluarga 
korban. Kecaman dan kutukan serupa juga diperlihatkan para tokoh 
agama di Indonesia, dan menuntut aparat untuk segera mengungkap 
dalang dan pelaku pemboman. 

Sebagai bangsa yang beradab dan umat beragama, kita tentu saja 
menolak aksi terorisme tersebut. Terorisme, apapun bentuknya, jelas 
tertolak oleh hukum apapun di dunia ini. Agama pun tidak membolehkan 
cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan dan misinya. Di sinilah 
kita kembali diingatkan, bahwa bahaya teror dan terorisme sejatinya 
adalah bahaya universal dan global yang tanpa mengenal batas-batas 
geo-politik bahkan batas suatu negara. Terorisme menjadi entitas 
bahaya dan tantangan bersama umat manusia di dunia ini.

Kejanggalan Tanpa mendahului proses penyidikan dan pembuktian yang 
kini tengah dilakukan oleh aparat, tragedi Sabtu Kelabu di Bali itu 
memunculkan banyak kecurigaan serta kondisi politik yang tidak lazim 
seperti biasanya. Ketidaklaziman dan kecurigaan itu secara kuat 
mengarah kepada pihak asing, khususnya Amerika Serikat (AS), negeri 
yang selama ini gencar mensponsori perang anti-terorisme 
internasional.

Untuk menjelaskan ketidakwajaran itu, beberapa hal berikut barangkali
sedikit membantu kita memahami pra-kondisi terhadap peristiwa  
ledakan bom. Pertama, pada 10 Oktober, dua hari sebelum kejadian, 
Deplu AS mengeluarkan peringatan kepada warganya di seluruh dunia 
untuk waspada. "Para teroris akan mengalihkan sasaran pada target 
yang lebih empuk, termasuk fasilitas dimana orang Amerika biasa 
berkumpul atau berkunjung seperti kelab malam,
restauran, tempat ibadah, sekolah atau tempat rekreasi terbuka 
lainnya."
(Republika, 14/10). Menurut pengamat inteligen, AC 
Manullang, 'kewaspadaan' dalam peringatan Deplu AS itu adalah bahasa 
politik. Dalam bahasa perang dan intelijen, kata 
Manullang, 'kewaspadaan' berarti tinggalkan tempat itu.

Kedua, pada saat Deplu AS mengeluarkan peringatan tersebut, Dubes 
AS, Ralph L Boyce, sibuk 'bersilaturahmi' ke beberapa pejabat 
penting, seperti Menkopolkam Susilo Bambang Yudoyono, Menkokesra 
Yusuf Kalla, dan pejabat lainnya. Memang tak spesifik Boyce 
mengungkapkan akan adanya serangan di Bali. Dubes AS itu hanya 
meminta pemerintah Indonesia untuk serius mengusut
serangan terhadap Exxonmobil, dan fasilitas AS di Teluk Betung, 
beberapa waktu lalu. Tapi yang aneh, enam jam sebelum kejadian 
peledakan, Boyce mengatakan bahwa polisi Indonesia tidak sungguh-
sungguh memerangi terorisme di Indonesia.

Ketiga, dari segi bahan peledak yang digunakan, bom ini menimbulkan 
radius kerusakan yang sangat luas. Menurut pengamat inteligen, ZA 
Maulani, sebagaimana dilansir Jawa Pos (14/10), dalam istilah 
militer, bom tersebut mempunyai demosili sampai 200 meter. Padahal, 
kata Maulani, sebuah granat 108 mm hanya memiliki radius kerusakan 
atau demosili 50 meter. Singkatnya, kekuatan bom ini setara dengan 
belasan granat 108 mm dijadikan satu dan diledakkan. Pelakunya sudah 
pasti ahli demosili. Mantan kepala BIN ini menyebut, bahan peledak 
dahsyat itu dari jenis C4 (C four) atau Claynore.
"Ini tidak diproduksi Indonesia. Hanya Amerika yang bisa memproduksi 
C4," kata Maulani.

Keempat, selama ini AS menuding Indonesia sebagai sarang dan tempat 
aman teroris, sekalipun aparat dan pemerintah Indonesia membantah 
tudingan tersebut. Presiden Bush yang agaknya kecewa dengan sikap 
Megawati  yang tidak tegas dalam memberantas terorisme di negeri 
mayoritas Muslim ini merasa, pemerintah Indonesia tidak kooperatif 
dalam kampanye anti-terorisme, sebagaimana ditunjukkan Malaysia, 
Singapura, dan Philipina, serta negara-negara lainnya. Bush bahkan 
beberapa kali menelpon langsung  Presiden Megawati berkaitan masalah 
terorisme. Kekecewaan AS juga tampak dalam masalah penolakan 
pemerintah Indonesia untuk menangkap Abu Bakar Ba'asyir,
pemimpin Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), yang dituding Paman Sam 
sebagai teroris dan kaki tangan Alqaidah di Asia Tenggara.

Beberapa alasan itulah yang kemudian oleh sebagian kalangan dijadikan
sebagai bukti keterlibatan langsung maupun tidak langsung dinas 
inteligen AS, CIA, dalam tragedi Sabtu Kelabu tersebut. Dalam 
peristiwa itu, tak satupun korban tewas dari warga AS. Padahal 
sebagai kota tujuan utama wisatawan asing di Indonesia, di Bali 
bermukim banyak warga asing, termasuk dari AS. Tetapi, mengapa tak 
ada korban warga AS?

Dengan kejadian itu, AS ingin menciptakan opini bahwa benar di 
Indonesia sebagai sarang teroris dan tempat aman berlindung kaum 
anarkis tersebut. Selain semakin memperburuk citra Indonesia di 
kancah internasional, peledakan bom tersebut juga memiliki tujuan 
tertentu. Pertama, kejadian tersebut untuk menganulir pernyataan 
beberapa pejabat, seperti wapres Hamzah Haz, bahwa tidak ada teroris 
di Indonesia, sekaligus membantah pernyataan tokoh-tokoh muslim 
Indonesia yang juga menolak tudingan AS bahwa Indonesia
adalah sarang teroris.

Kedua, kejadian itu untuk menegaskan bahwa Indonesia sangat lemah 
dalam memberantas mata rantai terorisme. Ketiga, grand design dari 
pengeboman ini adalah upaya kelompok tertentu untuk memojokkan 
Indonesia, khususnya umat Islam. Dan terakhir, puncak tujuan 
peledakan itu adalah one for all, yang akhirnya akan menggiring 
Indonesia masuk dalam perangkap Barat untuk berperang dengan teroris 
versi Barat.

Indonesia Sebagai bangsa berdaulat, selama ini Indonesia telah 
banyak mengalami aksi teror. Sejak zaman penjajahan Belanda dan 
Jepang hingga saat ini, terorisme terhadap negeri ini tak ada 
hentinya. Terorisme dalam bentuk kolonisasi
dunia Barat, khususnya AS melalui lembaga-lembaga dunia seperti IMF, 
Bank Dunia dan lain sebagainya, tak kalah hebatnya dengan aksi 
terorisme yang dikampanyekan AS. Tetapi keanehan terlihat lantaran 
Indonesia yang kemudian menjadi sasaran utama, selain beberapa 
negara di Timur Tengah. Indonesia negeri dengan mayoritas Muslim 
terbesar di dunia di mata AS dinilai sebagai
ancaman serius dominasi negeri itu, khususnya terhadap berbagai 
kepentingan dan pengaruhnya di Indonesia. 

Sementara itu, Amerika yang semula mengira dengan penegakan HAM dan
demokrasi di negeri-negeri Muslim, diharapkan skenario mereka 
berhasil, yakni kekuasaan dan dominasi tetap dipegang militer. 
Nyatanya, proses demokratisasi yang berlangsung di Indonesia, 
khususnya sejak reformasi digulirkan empat tahun silam, justru 
memberikan kebebasan bergerak bagi semua kalangan, tak terkecuali 
gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Pada perkembangannya ternyata 
kenyataan itu dinilai tidak kondusif dan bahkan dapat menjadi 
ancaman kepentingan mereka. Terlebih di antara gerakan-gerakan
Islam, yang oleh AS dinilai sebagai gerakan Islam radikal semisal 
FPI, Majlis Mujahiddin dan lainnya, konsisten memperjuangkan 
legalisasi syariat Islam.

Dari dalam negeri Paman Sam sendiri, publik AS masih trauma dengan 
sikap pemerintahan Indonesia di masa lalu yang dinilainya pelanggar 
HAM dan merugikan kelompok minoritas. Kasus Timor Timur dan 
kerusuhan Mei misalnya, seringkali menjadi dalih Kongres atas sikap-
sikap represip militer dan pemerintah RI. Itu pula yang menyebabkan 
Washington menghentikan bantuan dan hubungan militer dengan RI. 
Disadari militer berperan penting di Indonesia, maka ide normalisasi 
kerjasama militer dan bantuan AS pun dijalin. Hasrat AS
merajut kembali hubungan ini tak lain dengan maksud agar militer 
Indonesia dan pemerintah umumnya mau 'membungkam' gerakan-gerakan 
Islam radikal, sehingga kepentingan Paman Sam tidak terancam. Maka 
untuk meyakinkan Kongres dan publik negeri itu, dipakailah isu 
terorisme. Dan ini tampaknya cukup berhasil.

Dengan skenario dan berbagai kenyataan tersebut, Pemerintahan 
Megawati mesti hati-hati menyikapi berbagai peristiwa sebelum benar 
ada bukti jelas siapa pelaku pemboman dan tindakan anarkisme 
lainnya. Diakui, meski hal ini berulang kali dibantah, Megawati 
terus ditekan oleh AS dan kekuatan-kekuatan lain semisal IMF dan 
Bank Dunia, namun tidak semestinya pemerintah menuruti permintaan 
tersebut. Apapun, sebagai negara berdaulat, Indonesia memiliki
aturan dan hukum tersendiri dalam memberantas terorisme. Karena 
itulah, 'Nestapa di Bali' ini menjadi pelajaran penting, betapa 
terorisme tidak berdiri sendiri. Ada kekuatan maha dahsyat di 
belakangnya, yakni kekuatan nafsu rekolonisasi demi keuntungan 
ekonomi dan politik kelompok tertentu. 

Penulis, Kandidat Doktor dan Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim 
Indonesia (PPMI)


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Plan to Sell a Home?
http://us.click.yahoo.com/J2SnNA/y.lEAA/MVfIAA/IYOolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.

Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.

Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 


 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:20 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10