Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | Ikhlasul Amal <iamal @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Mon, 28 Oct 2002 21:22:58 +0100 |
| Organization | Hati yang Lapang |
| User-agent | Mutt/1.3.28i |
[27 Oct 2002, 23:07:52] Akhmad Hadi Susanto menulis (diringkas): % *71.2% Survey hari ini di Kompas menunjukkan rendahnya moral % kebangsaan kita Indonesia. Selamat hari Sumpah Pemuda! Di meja makan dan keluar rumah untuk jalan-jalan sore, Indonesia tetap paling bagus di dunia. Sambal Indonesia adalah cita rasa paling radikal di dunia; konfigurasi bawang merah-putih, jahe, kunyit dkk. adalah fundamentalisme paling paten dan mengakar. Pantaslah kalau orang Indonesia bekerja tenang dan makan baru keluar keringat! Demikian juga jalan-jalan sore: mau pakai sarung seperti di Pasuruan atau pakai kaos oblong celana 3/4 dan sandal Swallow butut juga jadi. Tidak perlu necis seperti di Paris; tidak usah dibungkus berlapis di musim dingin, dan tidak perlu norak ekshibisionisme di musim panas. Saya pikir nasionalisme itu rumit dan terbukti banyak negara sudah letih dengannya. Sekalipun setelah di negeri orang saya lebih tersentuh dengan cerita mantan murid KPC yang usaha warnet sendiri dan berusaha mati-matian memperoleh 'break event point' atas koneksi dengan lebar-pita yang pas-pasan (sedangkan saya di sini download CD sampai 3-4 buah dalam waktu setengah malam), tapi rasanya empati saya kepada perjuangan teman-teman di Indonesia bukan karena nasionalisme. Itu juga sama hambarnya lagu-lagu wajib yang didefinisikan pemerintah, sementara menurut saya "Merah Putih" dan "Rawe-rawe Rantas" karya Gombloh lebih menjiwai untuk Indonesia modern. Atau syair-syair Rendra yang diangkat Kantata Takwa. Tapi gombalnya, sekalipun almarhum "Pak Ageng" Umar Kayam sudah menolak habis definisi Kebudayaan Nasional versi Orba, tetap saja kalau ada "Malam Kebudayaan Indonesia", yang muncul tari-tarian adiluhung zaman Mataram. Ini Indonesia yang mana? Indonesia yang anakronis dan paradoks dengan situasi. Pantomin Indonesia modern harusnya berisi ekspresi manusia dibakar, rumah dilempari, dan orang hanya bisa berteriak sangat marah atau tertawa sampai mati. % Alhamdulillah aku masih di Ciputat:: di-sini Anda masih bisa punya KTP % dua. Ya, kadang kalau aku "capek" mengikuti prosedur birokrasi yang sedemikian tertib dan kesal menyaksikan "negara-negara yang tidak berdaya" diombang-ambing, terpikir juga ilustrasi seperti dalam film sci-fi. Kelompok orang yang difitnah harus mati-matian menembus semak-belukar kemapanan sistem informasi yang terpadu. Kalau Indonesia diblok transaksi digitalnya, dicurigai pesan elektronik yang lalu lalang, berita-berita diputar-balik, dan karena kita tinggal di "global village", mau tidak mau senjata kita adalah mengacaukan "referential integrity." Salah satunya adalah dengan memiliki KTP lebih dari satu... ;-) ---akhir kutipan--- -- amal iamal @ somewhere.in.the.world ----------------------- Seperti antan pencungkil duri: pekerjaan yang sia-sia ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Looking for a more powerful website? Try GeoCities for $8.95 per month. Register your domain name (http://your-name.com). More storage! No ads! http://geocities.yahoo.com/ps/info http://us.click.yahoo.com/auyVXB/KJoEAA/jd3IAA/IYOolB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> ---------- Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi, ITB, Indonesia. Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali* tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal. Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:21 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10