Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

[PIKSI-L] Gatra.com : Intel dan bom

From "hartantosanjaya" <hartantosanjaya @ somewhere.in.the.world>
Date Fri, 22 Nov 2002 15:37:48 -0000
User-agent eGroups-EW/0.82

dari sisi "pensiunan orang intelijen":

-----

Jakarta , Kamis, 21-11-2002 00:32:29 

ZA Maulani
Intel dan Bom 

GATRA.com - Tetapi, Iran juga ditipu Reagan. Sambil mengirimkan 
senjata-senjata itu ke Teheran, Reagan dan Bush diam-diam merangkul 
musuh bebuyutan Khomeini: Saddam Hussein. Amerika memasoknya dengan 
persenjataan, membantu invasinya ke Iran, mendukungnya dengan 
intelijen militer, dan membiarkan Saddam menghabisi tentara dan 
penduduk sipil Iran dengan senjata kimia beracun. Ketika George Bush 
sepuh naik ke Oval Office menggantikan Reagan, ia mengirimkan berton-
ton material dan teknologi untuk memberi kemampuan kepada Saddam 
Hussein mengembangkan persenjataan biologi, kimia, dan nuklirnya. 
Maka, jika sekarang Saddam Hussein dituduh memiliki kemampuan 
mengancam dunia dengan senjata biologi, kimia, dan senjata-perusak-
massal (WMD), penanggung jawab sebenarnya tidak lain adalah George 
Bush sepuh. Walter Lippmann menyebutkan, "penukangan" semacam itu 
tidak pernah lepas dari tangan CIA dan organisasi semacamnya.


KORAN The Manila Times edisi 29 Mei 2002 melaporkan, seorang Amerika, 
Michael Meiring, 65 tahun, ditemukan putus kakinya dan mengalami luka 
bakar pada beberapa bagian tubuhnya, karena meledaknya sebuah bom 
berkekuatan tinggi miliknya pada 16 Mei 2002, di sebuah kamar 
Evergreen Hotel di kota Davao, Filipina. Jaksa Davao, Raul Bendico, 
baru mengetahui kemudian bahwa Meiring anggota intel Amerika kelas 
kakap. In absentia, oleh Raul Bendico, ia dituduh sebagai teroris 
dengan "pemilikan bahan ledak secara tidak sah dan kelalaian 
menangani material bahan berbahaya."

Begitu peristiwa itu terjadi, staf Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika 
bergegas ke tempat kecelakaan, dan para anggota National Security 
Agency, CIA dan FBI memblokir tempat tersebut. Tidak ada orang yang 
boleh masuk kecuali dokter kedutaan yang mendampingi Meiring yang, 
dengan pengawalan polisi, dilarikan hari itu juga dengan pesawat 
carter ke San Diego, Amerika. Penyelamatan Meiring dilaksanakan atas 
perintah langsung Presiden George W. Bush dengan persetujuan Presiden 
Gloria Macapagal-Arroyo. Seorang rekan Meiring mengatakan, ia membawa 
sepucuk surat dari Kedubes Amerika di Manila. Isinya: Meiring tidak 
bisa dituduh dengan dalil apa pun berkenaan dengan kejahatan kasus 
peledakan itu.

Koran The Philipine Star dalam investigasinya melaporkan, Meiring 
tiba di Filipina pada 1992, dikenal sebagai "orang kaya" dengan usaha 
di bidang macam-macam, terutama mencarai "barang antik", menggunakan 
nama perusahaan Porousia International Trading Co. Dalam tempo 10 
tahun, ia berhasil membina hubungan baik dengan para pejabat sipil 
dan kepolisian di Mindanao Selatan, dan di balik itu juga dengan 
tokoh-tokoh dari MNLF Nur Misuari, MILF Hashim Salamat, Panglima 
Tentara Rakyat Baru (NPA) Romo Navarro, Panglima MNLF Tony Nasa, 
serta tokoh-tokoh yang dibutuhkannya untuk berhubungan dengan 
kelompok Abu Sayyaf. 

Diketahui, Meiring memberikan dukungan dana, baik kepada MNLF, MILF, 
maupun kelompok Abu Sayyaf, dengan dalih sebagai pembayaran untuk 
pembelian "barang antik". Itu ternyata merupakan suatu komplotan 
bersama agen-agen intel CIA, Bob Gould, Frederick Obado, dan Nina 
North, dengan alamat Fremont di California, dengan para pejuang Islam 
fundamentalis untuk mengacau di Sabah, Malaysia Timur.

Meiring dan komplotan CIA-nya sedang mendorong suatu rencana 
pengacauan di Sabah oleh kaum fundamentalis muslim Bangsa Moro di 
bawah bendera "Borneo National Liberation Front" dalam rangka 
pembentukan "The United States of Mindanao and North Borneo". 
Hubungan haram antara CIA dan Abu Sayyaf tidak usah bikin heran. 
Senator Filipina Aquilino Pimentel menyatakan, Abu Sayyaf adalah 
kelompok yang "diorganisir, dibiayai, dan dilatih mula pertamanya 
oleh dinas rahasia Ronald Reagan". Perkara CIA gemar mengobok-obok 
negeri orang juga bukan hal luar biasa. CIA bahkan gemar memanipulasi 
negerinya sendiri.

***

Pada akhir pekan, 18-19 Oktober 1980, seorang mantan dan seorang lagi 
calon pemimpin CIA di Paris, Prancis, bertemu dengan utusan dari 
suatu "rezim teroris". Mereka merancang bagaimana memanipulasi hasil 
pemilihan Presiden Amerika Serikat yang akan berlangsung. Sebenarnya, 
kegiatan seperti itu sudah dapat dikategorikan pengkhianatan terhadap 
negara. Tetapi, kegiatan semacam itu tidak terlalu diambil pusing 
oleh George Bush (sepuh), Kepala CIA pada waktu itu, serta William 
Casey, calon penggantinya. Mereka berunding dengan utusan Ayatullah 
Rohullah Khomeini, membahas agar 52 diplomat Amerika yang disandera 
di Kedubes Amerika di Teheran tetap terus ditahan sampai selesainya 
kontes pemilihan Presiden Amerika pada November 1980, antara Presiden 
Jimmy Carter dan penantangnya, Ronald Reagan.

 Bush dan Casey dikirim ke Paris untuk bertemu dengan utusan 
Khomeini, menawarkan kesepakatan rahasia --agar Iran tetap menyekap 
para sandera Amerika itu sampai Reagan berhasil masuk ke Gedung 
Putih. Apa iming-imingnya? Kalau menang, pemerintahan baru Reagan-
Bush akan memasok peralatan militer kepada Iran secara rahasia.

Pemerintahan Ayatullah Khomeini memutuskan: setuju mendukung pasangan 
Reagan-Bush; Iran akan terus menahan para sandera itu sampai menit-
menit terakhir diraihnya kemenangan oleh Reagan atas Jimmy Carter. 
Hasilnya, Reagan memenangkan kontes kepresidenan karena "berhasil 
membebaskan sandera" Amerika di Teheran. Kemudian, sebagaimana 
diketahui, sogokan berupa perlengkapan militer Amerika yang 
dijanjikan Bush dan Casey diurus seorang agen CIA, Letnan Kolonel 
Oliver North, yang ketika bocor kondang dikenal dengan "skandal Iran-
Contra".

Tetapi, Iran juga ditipu Reagan. Sambil mengirimkan senjata-senjata 
itu ke Teheran, Reagan dan Bush diam-diam merangkul musuh bebuyutan 
Khomeini: Saddam Hussein. Amerika memasoknya dengan persenjataan, 
membantu invasinya ke Iran, mendukungnya dengan intelijen militer, 
dan membiarkan Saddam menghabisi tentara dan penduduk sipil Iran 
dengan senjata kimia beracun. Ketika George Bush sepuh naik ke Oval 
Office menggantikan Reagan, ia mengirimkan berton-ton material dan 
teknologi untuk memberi kemampuan kepada Saddam Hussein mengembangkan 
persenjataan biologi, kimia, dan nuklirnya.

Maka, jika sekarang Saddam Hussein dituduh memiliki kemampuan 
mengancam dunia dengan senjata biologi, kimia, dan senjata-perusak-
massal (WMD), penanggung jawab sebenarnya tidak lain adalah George 
Bush sepuh. Walter Lippmann menyebutkan, "penukangan" semacam itu 
tidak pernah lepas dari tangan CIA dan organisasi semacamnya.

***

Indonesia sudah lama dituduh sebagai mata rantai paling lemah dalam 
upaya perang melawan terorisme di Asia Tenggara. Selama ini, para 
pejabat Indonesia bersikeras, Al-Qaeda tidak ada di Indonesia. Lima 
bulan lalu, Mabes Polri pernah mewawancarai tokoh yang disebut-sebut 
pihak Amerika sebagai bos jaringan teroris di Indonesia, Ustad Abu 
Bakar Ba'asyir, dan melepaskannya dengan keterangan, "Ba'asyir tidak 
terlibat dalam jaringan ataupun kegiatan terorisme."

Ledakan bom di Bali yang begitu dahsyat, konon dilihat dari jumlah 
korban yang jatuh adalah yang kedua terbesar sesudah serangan 
terhadap Gedung WTC New York, harus dibaca sebagai peringatan kepada 
Indonesia. Karena? Tidak sampai satu hari, Washington, London, 
Canberra, tanpa banyak pikir memvonis, bangsat di belakang peledakan 
itu adalah Muhammad Khalifah, adik ipar Osama bin Laden dari Al-
Qaeda. Karenanya, Indonesia tidak boleh lagi ragu-ragu menindak 
jaringan Al-Qaeda yang ada di Indonesia.

Dari begitu dahsyatnya akibat yang ditimbulkan bom tersebut, dan ciri-
ciri yang ada, Joe Vialls, pakar bahan peledak, sampai 
berucap, "hanya idiot" yang menolak bahwa bom itu bukan dari jenis 
nonkonvensional. Kesimpulan banyak pihak, terakhir kesaksian Kapten 
Jonattan Garland, perwira Angkatan Darat Australia, yang ada di situs 
kejadian, memperkuat kesimpulan tentang digunakannya senjata 
nonkonvensional di Legian, Bali.

 Bom itu sendiri, terlepas dari berbagai analisis tentang artinya 
bagi Indonesia, dapat dibaca sebagai pretext kepada Amerika untuk 
melakukan serbuan ke Irak, karena dosa-dosa Al-Qaeda di pantai Legian-
Kuta, met of zonder resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagaimana 
pemboman WTC, menjadi dalih bagi Amerika untuk melancarkan serbuan ke 
negara miskin Afghanistan. Amerika selama ini menuduh Irak telah 
memberikan dukungan dana dan sebagainya kepada Al-Qaeda, suatu 
tuduhan yang tidak masuk akal, mengingat Al-Qaeda yang Wahhabi-
fundamentalis tidak akan bersedia bekerja sama dengan Saddam Hussein 
yang sekuler-marxis.

Bom seperti yang meledak di Bali begitu dahsyatnya, teknologinya 
belum dikuasai kelompok yang gila sekali pun di Indonesia. Dapat 
diduga, itu hasil kerja profesional dari luar Indonesia, barangkali 
dibantu kelompok "locals". Keduanya tampaknya tidak pernah akan 
terungkap.

Namun, kasus gegernya parlemen Taiwan menuntut dipecatnya Menteri 
Luar Negerinya --karena sudah mengetahui akan ada peledakan bom di 
Bali pada 12 Oktober 2002, konon berkat tips dari CIA-- mengungkap 
siapa sebenarnya yang berada di belakang pemboman di Bali 
(http.//taiwannews.com, 15 October 2002). 

Sebagaimana kisah tentang Mister Meiring tadi, pemerintah asing, 
bahkan International Crime Court di Den Haag, Belanda, sekali pun, 
tidak sanggup menjamah warga negara Amerika yang terlibat kasus 
kriminal perang di luar negeri. Maka, kasus ini akan terus gelap, dan 
korban-korban kambing hitam akan terus berjatuhan.

Belajar dari kasus adu domba Irak-Iran dan Sabah tadi, seorang 
Indonesianis, Daniel Lev, memberikan saran kepada Pemerintah 
Indonesia agar tidak terseret pada kepentingan asing jangka pendek, 
dan lebih baik memberikan perhatiannya pada kepentingan nasional 
Indonesia jangka panjang. 

Kita diuji, sesudah peledakan bom Bali, apakah masih mampu menegakkan 
politik luar negeri yang bebas-aktif, kebijakan dalam negeri dengan 
kepala tegak, dan kemampuan menegakkan yurisdiksi hukum nasional kita 
yang berdaulat berdasarkan keadilan dan kebenaran dalam menangani 
kasus-kasus terorisme di Indonesia. Wallahua'lam bis-shawab.

[ZA Maulani, Mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara]
[Kolom, GATRA, Nomor 01 Beredar Senin 18 November 2002] 

sumber:
http://www.gatra.com/index2.php3?id=2002112008450576&rubrik=GI%
20Kolom&tanggal=2002-11-21&mid=2



----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.

Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.

Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 


 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:22 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10