Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | Hendarwin <hendar @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Fri, 31 Jan 2003 12:38:11 +0800 |
Dear friends, Ada tulisan bagus sekali dari Rhenald Kasali. Saya jadi ingat tulisannya si Kiyosaki bahwa kebanyakan pejabat pemerintahan bermental birokrat, sehingga lebih senang menghabiskan budget, ketimbang menginvestasikan budget agar bisa menjadi asset (sesuatu yang mendatangkan income). Pertanyaannya mungkinkah seorang bermental CEO terpilih menjadi pejabat pemerintahan ? Tampaknya itu harus mengubah sistem pemilihan perwakilah rakyat di tingkat Pusat & Daerah, termasuk pemilihan aparat pemerintah, dari sistem mencoblos gambar planet, hewan ternak, tumbuh-tumbuhan, dsb menjadi secara langsung memilih nama manusia ! Hendarwin BP West Java, Indonesia * 7854-9437 * hendar @ somewhere.in.the.world Selasa, 26/2/2002 Kota Air Oleh: Rhenald Kasali Bayangkan kalau Jakarta dipimpin oleh seorang Chief Executive Officer alias CEO. Apa yang ada di kepalanya begitu ia diberi anggaran sebesar Rp 15 triliun untuk mengatasi banjir? Segera dihabiskan untuk membangun kanal? Tidak begitu. Menghabiskan anggaran adalah cara pikir seorang birokrat. Seorang birokrat bahkan mungkin akan datang kembali setahun kemudian dengan keluhan bahwa uangnya kurang. Ia lebih terbiasa menghabiskan anggaran. Ketika masih terdapat sisa pada akhir tahun anggaran, sisa itu harus dihabiskan. Seorang CEO tentu akan berpikir lain. Begitu diberi anggaran sebesar itu ia pasti bertanya: "Berapa besar uang yang dapat saya kembalikan kelak dan berapa lama balik modalnya? Bagaimana cara mendapatkannya kembali?" Itulah yang seharusnya ada di kepala masing-masing gubernur, bupati, walikota, atau manajer kota lainnya; apalagi sekarang pemerintah tidak punya uang. Seharusnya mereka lebih menjadi seorang CEO yang punya cara berpikir ala pengusaha alias entrepreneur. Bekerja bukan untuk menghabiskan uang rakyat, melainkan membesarkan dan mengembalikannya. Baltimore adalah contoh kasus yang bagus. Kota ini dulunya begitu murung, bahkan pemerintah daerahnya punya utang besar. Kotanya jelek, penduduk perlahan-lahan pergi. Hotel kosong, bisnis sepi, dan pengangguran banyak. Syukur, Baltimore tidak salah pilih orang. Lewat pemilihan langsung, rakyat mengangkat William Schaefer sebagai Walikota Baltimore. Ia lebih merupakan seorang CEO ketimbang birokrat. Melalui pertarungan politik seru akhirnya Schaefer mendapat dukungan kuat. Ia dibantu sebuah dewan ekonomi yang sangat berorientasi bisnis, yaitu Baltimore Economic Development Corporation. Sebuah rencana kota disiapkan masak-masak. Masalahnya, pasti akan ada banyak pihak yang tidak senang karena ada banyak orang yang harus dipindahkan, digusur, menyediakan lapangan parkir, dan lain sebagainya. Cuma, karena kepemimpinannya kuat, Schaefer segera mendapat dukungan. Ia memanggil semua pihak: pengembang perumahan, pengusaha transportasi, pemilik gedung, rumah sakit, restoran, pendidikan, dan sebagainya. Ia lalu mengundang James Rouse, seorang arsitek yang membangun The Faneuil Hall Marketplace di Boston tahun 1970-an. Rouse lalu mengembangkan rencananya: membangun Baltimore sebagai sebuah kota di tepi air alias waterfront city. Harbor Place di Baltimore akhirnya diresmikan pada 2 Juli 1980. Tak disangka, begitu dibuka, peresmiannya dikunjungi 500.000 orang. Hotel kembali penuh, perdagangan dan restoran kembali ramai. Pengangguran pun berhasil ditekan. Uang yang ditanam kembali jauh lebih cepat dari yang diduga. Dalam tahun itu saja 18 juta orang menjadi turis di Baltimore. Padahal, tahun itu pengunjung Disney kurang dari 14 juta orang. Jakarta bisa menjadi kota empang raksasa Schaefer tidak sendirian. Di dunia ini ada banyak tokoh pemerintah daerah yang punya jiwa wirausaha hebat. Sebut saja Richard Lugar dan penggantinya, William Hudnut dari Indianapolis. Ada Georges-Eugene Haussman yang membangun kota Paris atas perintah Napoleon III. Juga Daniel H. Burnham Sr. yang membangun Chicago sebagai sebuah kota indah di tepi danau. Bagaimana di Indonesia? Tidak berniatkah para bupati, walikota, dan gubernur mencatat sejarah dalam pembangunan kota atau daerahnya? Saya menurunkan Bupati Lamongan, H. Masfuk yang mempunyai spirit seperti itu dalam acara saya di ANteve. Masfuk bekerja keras merubah cara berpikir bawahannya yang serbabirokratis menjadi CEO-CEO bisnis yang entrepreneurial. Kelak Anda akan melihat Lamongan berbeda dari daerah lain. Mari kita lihat Jakarta. Secara topografi, Jakarta yang sudah berkali-kali ditimpa banjir mungkin harus menerima kenyataan sebagai sebuah kota air. Itu adalah julukan manis kalau nanti Jakarta berhasil memilih gubernur yang kepemimpinannya lebih sebagai seorang CEO ketimbang seorang birokrat. Ia harus memikirkan fungsi lain dari sebuah kanal yang bukan melulu sebagai saluran air banjir, melainkan sarana wisata yang indah, aman, bebas dari ancaman para preman. Ia juga memikirkan sistem pengumpulan uang yang bebas dari korupsi, dan sebagainya. Kalau nanti kita gagal memilih gubernur seperti itu, ya wallahualam. Kita bakal punya catatan hitam: ibu kota kita berada di sebuah empang raksasa. Kontan, Nomor 21/VI Tanggal 25 Februari 2002 ---------- Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi, ITB, Indonesia. Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali* tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal. Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:23 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10