Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

[PIKSI-L] Renungan Buat Seorang Ayah atau Calon Ayah

From "Hendarwin Hendarwin" <HHENDAR @ somewhere.in.the.world>
Date Thu, 4 Nov 1999 12:42:47 +0700

Ada tulisan yang amat menarik di bawah ini... dan sekali lagi, HANYA untuk ayah
dan calon ayah...
Buat yang belon, sorry aja deh... usaha dulu yang gencar... he..he..he...

semoga bermanfaat...

"from North Java Sea"



Where Have All the Fathers Gone?
================================

Bill  Cosby memang berharga. Ketika beberapa tahun silam, anaknya, Bill Cosby Jr
diterjang  peluru,  hampir sebagian warga dunia berguncang. Seorang ayah 'ideal'
kehilangan  anaknya.  Puluhan  pertanyaan  berhamburan  di  balik  kejadian itu.
Orang-orang tidak membayangkan, Bill Cosby Jr punya masalah dengan bandit-bandit
pengedar obat terlarang. Bukankah Bill Cosby seorang ayah ideal, humoris, sabar,
pengertian,  enak  dan perlu. Tidaklah berlebihan, kalau Alvin F. Poussaint M.D,
seorang  Asisten  Profesor  dari  Harvard Medical School, membutuhkan 10 halaman
untuk menjelaskan kehebatan sang tokoh.

Namun  ada  satu pertanyaan inti yang tidak mampu dijawab secara transparan oleh
Bill. Yaitu, 'Where has Bill gone'? Kemanakah Bill pergi selama ini. Apakah yang
ia  lakukan  sepanjang  hari  dengan  anaknya.  Kenapa,  Bill  tidak  mengetahui
sedikitpun tentang sepak terjang anaknya?

Malam,  ketika  tulisan  ini  sedang  dirampungkan, telpon rumah saya berdering.
Interlokal  dari kampung saya di sebuah dusun pedalaman Sumatra. Suara gagap dan
ragu-ragu  kakak  perempuan  saya  mengabarkan,  dua  orang keponakan kami masuk
penjara.  Satu  orang  tertangkap sebagai pengedar Narkoba dan satu lagi sebagai
pemakai Narkoba kronis.

Sama  seperti  Bill  Cosby, tiba-tiba puluhan pertanyaan menyergap dan mengepung
ruang  dalam  otak  kanan saya. Semua pertanyaan itu berputar-putar dan akhirnya
berpilin  pada  sebuah pertanyaan, 'Where has their father gone'? Kemanakah ayah
mereka pergi selama ini?

Sehari  sebelum  saya  terima  kabar  dari  kampung,  dalam sebuah dialog antara
pemerhati  pecandu  Narkoba,  seorang  ibu bercerita. Katanya, tak ada kesakitan
yang  lebih  mencekam  ketimbang cengkraman Narkoba pada anaknya. Dengan menahan
tangis  dan  sedikit  dendam, ia mengatakan anaknya adalah korban dari hilangnya
lelaki dewasa (ayah) dalam putaran kehidupan rumah tangganya.
"Where has the father gone?"

Dimana sih ayah-ayah mereka?

Anak-anak  yang  ditakdirkan  menjadi  pelaku  sejarah di atas hanyalah sebagian
kecil  di  antara  berjuta  anak  yang  sebenarnya  tidak  membutuhkan konseling
psikologi.  Apa  yang  mereka  butuhkan  -namun  seringkali tidak mereka miliki-
adalah  ayah  yang  peduli  padanya dan punya waktu untuk bersama. Anak-anak itu
tidak butuh tenaga psikiater tapi dia butuh seseorang yang bisa dipercaya.

Lalu dimanakah ayah-ayah mereka? Ada dua jawaban.

Pertama, ayah yang ada tapi suka membolos. Tipe ini kita temukan dimana-mana. Di
lapangan  golf,  tenis,  bulu  tangkis, kantor dan tempat lainnya. Ada ayah yang
dinas  luar (tugas kantor atau dakwah) ke daerah-daerah hampir setiap bulan. Ada
ayah  yang  bekerja,  berangkat  sesudah  subuh dan pulang larut malam. Sehingga
seolah-olah hanya ada waktu sisa buat anak-anaknya. Kesimpulannya, ayah-ayah ini
ada di mana-mana, tapi mereka sering membolos dari waktu bersama anaknya.

Mereka  (ayah-ayah ini) sulit ditemukan di rapat-rapat POMG (Persatuan Orang Tua
Murid  dan  Guru),  karena  ada  peninggalan  purba yang menyatakan bahwa urusan
sekolah adalah hak mutlak sang ibu. Kita jarang menemukan ayah di tempat praktek
dokter  menggendong  anaknya  yang  sakit.  Kita juga tidak melihatnya di kantor
kepolisian mengurus anaknya yang melakukan tindakan kriminal.

Ayah-ayah ini apabila ditanyakan pada mereka: apakah yang penting dalam hidupmu?
Biasanya  mereka  menjawab:  keluarga dan anak-anak. Naifnya, jawaban ini sering
tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagaimana mereka mengatur
waktu  dan  tenaga mereka sehari-hari antara pekerjaan dan anak. Simaklah dialog
berikut ini:

Sang Anak : "Ayah, Yah main bola yuk!"

Sang Ayah : "O, ya. Ayah baca koran dulu!"

"O, ya. Ayah nonton berita dulu !"  etc

------------------------------------------------------------------------
---
Berlangganan: piksi-l-subscribe @ somewhere.in.the.world
Berhenti: piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Arsip: http://www.egroups.com/group/piksi-l


eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/piksi-l
http://www.egroups.com - Simplifying group communications



?etc?


Mungkin  ayah  seperti  inilah  yang  dimaksudkan oleh hasil need assesment dari
Lembaga  Demografi  salah satu universitas negeri di Jakarta. Jajak pendapat itu
menerangkan  empat  ciri menonjol ayah tipe pertama ini. Cepat marah, jarang ada
waktu  ngobrol  dengan  anak, ditakuti anak dan selalu menakar seluruh pekerjaan
dengan uang.

Kedua,  ayah  yang ada (fisik) dan rajin tapi tidak tahu harus berbuat apa. Kita
menemukan  ayah-ayah  ini sering berada di rumah. Mereka mengerjakan banyak hal,
tapi  tidak  terlalu mengerti apa yang dikerjakannya. Sebuah gelombang rutinitas
menjebak dan membawanya berputar-putar ke dalam pekerjaan yang memiliki kualitas
rendah.

Anak-anak  menjumpai  tokoh ini sepanjang waktu di rumah, namun sayangnya lambat
laun  sang  tokoh  menjadi  tidak berarti dalam kehidupan mereka. Tidak ada lagi
kejutan-kejutan  psikologis  yang  biasa  ditunggu-tunggu anak dari seorang ayah
yang  normal.  Ritme komunikasi berjalan tanpa greget dan hambar. Sebagian besar
korban Narkoba dan pelecehan seksual di kalangan remaja memiliki ayah tipe kedua
ini.

Bukan Superman tapi Superstar

Benar,  ayah  bukanlah  superman, tapi ia adalah superstar. Ia bintang di tengah
keluarga.  Ia  pembawa  dan  penentu  model  sekaligus  agen  sosial. Lewat aksi
panggungnya yang memikat, ia menggemuruhkan keceriaan keluarga.

Tapi,  sebagai seorang bintang, ia tidak lahir dengan sendirinya. Ia membutuhkan
dukungan. Norma Tarazi dalam bukunya ?The Child in Islam? menerangkan ini dengan
baik. Katanya, peran ayah dalam Islam itu digambarkan dengan jelas. Bahkan lebih
jelas  dari  peran  ibu  (seperti  digambarkan peran Ayah dalam diri Rasul-rasul
Allah dan Luqman as) karena bagi lelaki peran ayah bukanlah peran instingtif.
Peran  ini  lebih  membutuhkan  bimbingan sosial daripada wanita dengan perannya
sebagai ibu.

Sebelum  dukungan  datang  dari luar, maka sang ayah harus mencari dukungan dari
dirinya  sendiri.  Mereka haruslah secara kontinyu merangsang dialog dengan hati
nurani  secara  intens  dan apresiatif. Dialog-dialog ini harus mampu meyakinkan
bahwa ia tidaklah satu-satunya ayah yang sedang belajar menjadi superstar. Bahwa
anak-anak  membutuhkan  cinta,  dukungan,  dorongan  dan  perlindungannya. Bahwa
melalui  anak-anak  para  orang  tua  diajarkan  makna  hidup,  cinta, kesucian,
kesabaran  dan  sebagainya.  Bahwa anak-anak melihat dunia luar dengan perantara
jendela sang superstar.

Dukungan  dalam  diri  tidak akan berarti tanpa tekun dan sabar berlatih. Sampai
suatu  saat hilangnya kekakuan dalam berhadapan dengan anak-anak. Muncullah ayah
yang  dengan  ikhlas  membantu  anaknya mengerjakan PR, memandikan anak, mencuci
baju dan belanja. Ayah yang membacakan buku cerita untuk anaknya, mengantar anak
les komputer. Ayah-ayah inilah yang akan membuat dunia ini berputar dan menjawab
pertanyaan
"where have all the fathers gone?" dengan "Here I am. Now and forever!"
Wallahu a'lam bishowab.

by : Ummi No.06 Tahun XI, 1999


------------------------------------------------------------------------
---
Berlangganan: piksi-l-subscribe @ somewhere.in.the.world
Berhenti: piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Arsip: http://www.egroups.com/group/piksi-l


eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/piksi-l
http://www.egroups.com - Simplifying group communications



 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:41:18 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10