Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | "Moh. Firdaus" <firdaus @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Thu, 4 Nov 1999 18:10:22 +0700 (JAVT) |
| Cc | 92-l @ somewhere.in.the.world |
... yang ini untuk calon suami/istri -- firdaus --------------------------------------------- IZINKAN DINDA MENONTON BOLA Jakarta, 18 Juni 1999 Assalamualaikum Wr.Wb. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Keseluruhan puja dan puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga keselamatan dan kesejahteraan dilimpahkan Allah atas Nabi Muhammad, utusan-Nya yang mulia. Akhi Zain yang saya hormati, Saya sudah menerima dan membaca surat yang akhi kirimkan.Isinya tidak membuat saya marah, seperti yang akhi takutkan. Namun saya jadi bertanya, siapa sih yang memberitahukan akhi perihal hobby saya itu. Sampai-sampai Akhi merasa perlu menasehati saya. Ya, baiklah saya mengaku saja. Hobby saya memang nonton pertandingan sepak bola. Maaf, kalau waktu taaruf dulu saya tidak memberitahukannya, sebab saya pikir itu tidak perlu. Cuma masalah sepele. Tapi kalau ternyata sekarang akhi menanyakannya, saya akan menjelaskannya. Awalnya saya suka nonton bola cuma karena ikut-ikutan teman. Waktu itu saya baru masuk SMA ( sekarang SMU ya?) Televisi swasta yang baru bermunculan saat itu, secara rutin menayangkan siaran pertandingan sepak bola luar negri, terutama liga Italia dan Inggris. Wuih, seru banget! Pokoknya tidak ada satu pertandingan pun yang terlewatkan. Tidak peduli besok ada ulangan atau tidak. Yang jelas, besok di kelas pasti ada diskusi hangat seputar pertandingan semalam. Yang malamnya tidak nonton, dijamin bakalan menyesal (?). Mereka tidak akan bisa kasih komentar apa-apa, soalnya mana tahu mereka siapa yang bikin gol semalam. Lothar Mathaeus atau Jurgen Klinsmann. Terus, mereka tidak tahu juga siapa yang dapat kartu merah, lantaran menendang tulang kering lawan, bukannya bola. Dengan hobby saya itu, paling tidak, membuat ayah saya di rumah punya teman nonton bola. Penghuni rumah yang lain tidak ada yang suka nonton bola. Kami berdua bisa sorak-sorak dan adu komentar. Pokoknya seru dan yang pasti "I love you, Daddy". (Eh iya, kalau di perhatiin ayah saya itu mirip David Beckham deh. Suer. Becanda, kok!) Waktu saya jadi akhwat dan berjilbab, hobby saya itu tidak bisa saya tinggalkan. Apalagi banyak juga akhwat lain yang punya hobby sama. Jadi saya pikir hobby saya ini tidak menyebabkan ke-Islaman dan keakhwatan saya dianulir (tidak syah) atau menjatuhkan studi saya. Akhi Zain yang saya hormati, Akhi bilang hobby seperti itu menyia-nyiakan waktu dan biaya, karena saya suka bela-belain beli majalah dan tabloid olah raga buat sekedar nambah wawasan persepakbolaan. Tanpa Akhi beritahu pun saya sudah menyadari hal itu. Sekarang ini saya sudah berusaha untuk membatasi hobby saya itu. Selain karena banyaknya kesibukan, sehingga saya jadi jarang nonton bola, harga majalah dan tabloid yang mahal membuat saya jadi jarang membelinya. Alasan lainnya karena pemain bola sekarang banyak yang keren-keren. Siapa yang tahan sama si jangkung Bierhoff atau tatapan Del Piero. Terus terang saya takut tergoda. (Jangan marah ya, cuma bercanda kok. Lagian mereka bukan muslim, jadi bukan saingan.) Intinya, akhi tidak usah khawatir bahwa saya begitu terobsesi oleh sepak bola. Jangan sampai proses yang sedang kita jalani menuju pernikahan yang diridhoi Allah ini terputus hanya karena itu. Kita sudah sama-sama dewasa. Sudah pandai, setidaknya sudah mengerti, bagaimana menggiring bola kehidupan kita agar selamat sampai di gawang tujuan. Lawan atau rintangan hidup sebagai ujian dan cobaan harus kita hadapi dengan cerdik. Jangan bermain curang dan kasar, sebab Islam mengajarkan kejujuran dan kelembutan. Namun jangan pula cengeng. Kalau kita terjatuh karena dijegal lawan, bangkit lagi. Kejarlah bola kembali, walau harus jatuh bangun. Tapi itu pun bukan berarti menyerang membabi buta. Bagaimanapun kita harus punya taktik dan strategi serta kemampuan membaca permaian lawan agar dapat menguasai lapangan. Konsistenlah dengan posisi masing-masing dan laksanakan tugas dengan istiqomah supaya tercipta kesatuan dan kekuatan yang solid. Kemudian di atas segalanya ada Wasit atau Hakim Yang Maha Bijaksana yang menentukan semuanya. Pluit-Nya yang sesekali berbunyi, semoga hanya berisi peringatan dan bukan hukuman. Akhi Zain yang saya hormati, Cukup kiranya penjelasan saya ini. Saya berjanji akan semakin membatasi diri terhadap berbagai hal yang kurang berguna. Bukan karena akhi semata, tapi di atas segalanya karena mengharap keridhoan Allah saja. Tapi bila kelak Allah memang menjodohkan kita, tolong izinkan saya sekali-sekali menonton sepak bola, khususnya kalau Zinedine Zidane yang main. Akhi tidak usah cemburu, walaupun dia Muslim dia sudah punya istri, kok. Atas semua penjelasan ini, saya harap akhi Zain dapat memakluminya. Terima kasih atas pengertian akhi yang saya hormati dan yang, insya Allah, kelak saya...cintai. Semoga kiranya kasih sayang Allah tercurah atas kita sekalian. Amin. Wassalamualaikum Wr.Wb. Laila -- dari ummi : Pemenang Lomba Menulis Surat Untuk Calon Suami ------------------------------------------------------------------------ --- Berlangganan: piksi-l-subscribe @ somewhere.in.the.world Berhenti: piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world Arsip: http://www.egroups.com/group/piksi-l eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/piksi-l http://www.egroups.com - Simplifying group communications
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:41:18 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10