Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | "epsi budihardjo" <epsibw @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Thu, 22 Aug 2002 15:48:24 +0700 |
saya setuju no,
memang jika kita kembalikan ke topik awal (hukuman fisik di lingkungan
sekolah)
maka intinya: apapun hukumannya, itu ada sifat mendidiknya (harus), bukan
karena mencontoh tetangga, karena tradisi, atau kesal/marah.
sbg contoh: pada tingkat/stadium "rada berat" saya menambah "ancaman" kepada
anak saya (yg sekarang kelas 6, tapi ini saya terapkan saat di kelas 4)
yaitu menambah PR dgn soal yg semacam utk satu kesalahan ketidaktelitian.
Memang dia pertama kali babakbelur, buat PR s/d jam 11.00 sambil
terisak-isak (krn soal bertambah terus).
Hati saya sbnrnya sangat tidak tega, tapi karena saat ini (kelas 6) saya
baru lihat hasilnya (dia jauh lebih teliti)
Cerita ini saya ungkapkan, karena ada temen yg menggunakan pemukul saat
anaknya bikin PR, bahkan suka dengan makian "dasar bodoh" dsb..
epsi
----- Original Message -----
From: "sri_raharno" <sri_raharno @ somewhere.in.the.world>
To: <piksi-l @ somewhere.in.the.world>
Sent: Thursday, August 22, 2002 10:19 AM
Subject: [PIKSI-L] Re: oh piksiku....: agak menyimpang sedikit
> --- In piksi-l @ somewhere.in.the.world, "epsi budihardjo" <epsibw @ somewhere.in.the.world> wrote:
> > omong2 mengenai Sabda Nabi memukul anak jika tak solat, saya masih
> ragu
> > bahwa ini diterjemahkan harfiah. mungkin 'memukul' tak sama dgn
> memukul
> > (tanpa apostrof).
> > saya lebih suka "memukul" anak saya (yg sudah mau 11 thn) dgn kata-
> kata
> > bukan dgn cambuk.
>
> untuk memahami suatu kata yang berasal dari Al-Qur'an atau Sunnah
> Rasul tentunya harus melihat pemahaman yang sudah terlegitimasi, bisa
> pemahaman itu didapat dari ayat yang lain di dalam Al-Qur'an, bisa
> berasal dari sabda Nabi SAW, pemahaman shahabat Nabi walaupun tidak
> mutlak dan lebih baik daripada pendapat orang mutakhirin yang belum
> jelas baik-buruknya(karena shahabat Nabi adalah orang yang
> berhubungan langsung dengan Nabi dan memahami suasana ketika hukum
> itu ditetapkan dan ada jaminan mereka itu diridhoi Allah- lihat At-
> taubah ayat 100, walaupun ada sebagian muslimin yang tidak mau
> menggunakannya), atau Allah bukakan melalui ilmu pengetahuan yang
> pada umumnya tidak mengubah asal hukumnya, hanya menambah pengetahuan
> saja, misalnya ayat yang menyatakan bahwa "orang bila menuju ke
> langit akan merasa sesak dadanya": dahulu mufasir menafsirkan ayat
> dengan penafsiran bahwa untuk menuju ke langit diperlukan kerja keras
> seolah-olah dadanya menjadi sesak, akan tetapi sekarang dapat
> diketahui bahwa semakin ke atas (ke langit) udara semakin tipis,
> sehingga bernafas menjadi sulit dan dada menjadi sesak.
>
> Dengan demikian untuk mengetahui makna suatu hadits kadangkala
> diperlukan hadits lainnya. Hadits di atas sebenarnya tidak berdiri
> sendiri, ada hadits-hadits lain yang senada yang menyebutkan bahwa
> metode memukulnya tidak boleh dengan pukulan yang mematikan atau
> merusakkan, seperti memukul dengan sepenuh tenaga, memukul
> menggunakan palu besi, memukul kepala atau wajah dan semisalnya.
> Selain itu dikaitkan dengan awal dari hadits itu yang memerintahkan
> orang tua untuk mengajari anak sholat mulai umur 7 tahun. Sehingga
> dapat dipahami bahwasannya proses "memukul" itu tidak tiba-tiba
> terjadi ketika anak umur 10 tidak mau sholat, sedangkan si anak tidak
> pernah/kurang dididik menjalankan sholat, seperti bapak/ibunya
> sholatnya jarang, tidak pernah mengajak anak sholat dan sebagainya.
> Ketika proses pendidikan anak untuk sholat sudah dimulai sejak usia 7
> tahun (bahkan ada yang kurang dari itu) dan ketika mencapai usia 10
> tahun (berarti telah dididik selama 3 tahun dalam sholat) tidak
> menunjukkan perbaikan yang berarti, secara akal sehat/logika tentunya
> diperlukan "cara yang agak lebih" dibandingkan sebelumnya, karena
> telah terbukti selama 3 tahun metode sebelumnya kurang berhasil. Cara
> yang dicontohkan adalah dengan "memukul". Kalau sebelum usia 10 si
> anak telah dididik dengan kata-kata (dengan halus, dimarahi dsb) akan
> tetapi tetap tidak menunjukkan perbaikan, apa akan tetap "memukul"
> dengan kata-kata setelah usia 10 walaupun telah terbukti tidak
> berhasil? Atau bisa jadi dulunya lemah lembut, setelah 10 tahun
> dengan perkataan yang keras, bisa jadi.
>
> Dengan demikian ada sebagian muslimin yang memahami "memukul" di
> hadits tersebut dengan memukul yang sebenarnya dalam arti harfiah
> bukan memukul dengan arti majaz, tentunya dengan catatan ada metode
> memukulnya. Walaupun demikian ada juga sebagian muslimin lain yang
> berpendapat perkataan itu mengandung arti majaz, bukan memukul secara
> fisik tapi "memukul" dengan cara lain, seperti yang diungkapkan oleh
> Mas Epsi.
>
> Akan tetapi esensi dari hadits itu bukan masalah memukulnya, akan
> tetapi masalah "kewajiban orang tua untuk mendidik anak agar mau
> menjalankan sholat dengan baik", karena sholat merupakan satu dari
> rukun (tiang) islam. Bila tidak sholat berarti keislamanannya akan
> runtuh (bukan islman lagi). Dan hal ini akan dipertanggungjawabkan di
> hadapan Sang Kholik kelak. Sehingga bila ada orang tua yang mampu
> mendidik anaknya dengan baik sedini mungkin barangkali tidak perlu
> memukul anaknya, cukup perkataan halus si anak sudah menurut kepada
> orang tua.
>
> Dengan demikian pemahaman arti "memukul" sebenarnya bukan merupakan
> masalah yang krusial, lebih krusial adalah masalah generasi muda yang
> harus mendapatkan pendidikan yang baik dan benar sesuai Al-Qur'an dan
> Sunnah Nabi. Sangat disayangkan bila muslimin ribut-ribut masalah
> seperti ini dan sampai timbul permusuhan dikalangan muslimin,
> sedangkan masalah-masalah yang lebih krusial dilupakan atau
> diabaikan. Bagi mereka yang mengambil arti "memukul" dengan memakai
> arti yang sebenarnya silakan saja dan bagi mereka yang mengambil
> arti "memukul" dengan arti majaz juga silakan, karena akibatnya akan
> ditanggung masing-masing.
>
> wallahu a'lam
>
> sri raharno
>
>
>
> ----------
> Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
> ITB, Indonesia.
>
> Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
> pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
> tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.
>
> Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
> Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
> Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
>
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
>
>
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:12 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10