Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | "akhmadhs <akhmadhs @ somewhere.in.the.world>" <akhmadhs @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Tue, 24 Dec 2002 02:28:47 -0000 |
| User-agent | eGroups-EW/0.82 |
--- In piksi-l @ somewhere.in.the.world, "Indra I.A.S" <indraias @ somewhere.in.the.world> wrote:
..
> word, ahli IT, jagoan teori-teori Mas Einstein
> (contoh: Anto), ahli nujum (contoh: Rizki) akan susah
> payah begitu disuruh cari peluang pasar sandal di
> Irian Jaya, atau disuruh cari rekanan bisnis di
> Shanghai, atau disuruh meyakinkan bank untuk pinjam 5
> milyard. Dengan kata lain, bisnis jadi betul-betul
> 'high-risk' dan cuapek buanget.
>
.. Wah aku kok dijadiin contoh ya.. :)
My opinion is 50-50 Jadi musti imbang antara keinginan buka bisnis
sendiri (a) dan masih menekuni karir ('tukang') sampai setinggi
langit (b). Kalau boleh berandai-andai waktu tak terbatas dan
pembagian waktu ('time management') bukan masalah, karena aktifitas
(b) diperlukan untuk mengumpulkan modal fisik (uang) --itu kalau bisa
saving loh, modal pengetahuan bisnis (bagi lulusan itb yang banyakan
di-brain-wash jadi 'kuli' bertitel Ir. atau ST, SSi,), dan modal
kepercayaan (minimal bisa pakai KTA - Kredit Tanpa Agunan, daripada
ngurus sendiri KUK -- ya nggak mas Risky? Vice President ABN Amro
untuk wilayah Tulungagung..:).
Mengingat Rosul sendiri dulunya pedagang, aku pikir boleh juga kita
mulai kecil2an (skalanya mikro) mengkikis mental 'kuli' kita (&
keluarga kita) dengan berdagang: dagang bakso di Sing boleh juga..
pasarnya udah ada tuch :). Ada cerita dari kakak iparku tentang
temannya (lulusan Poltek Mek. Swiss -- sekarang PMB) posisi karirnya
sudah tinggi dan sudah kaya. Idealisme & semangat untuk punya bisnis
sendiri dimulai dengan pengkikisan mental 'kuli' caranya? Setiap pagi
jualan sepatu Nike "abal-abal" di Senayan... (nggak tahu sekarang apa
bisnisnya).
Jadi bisnis untuk user 'Novice' kayaknya memang hanya untuk "at least
balik modal secara nyata", tidak melulu diatas kertas dan Excel
ngitung NPV, IRR, ROI, PI etc. etc. (oalah.. jualan bakso aja pakai
Net Present Value..) Ya pasti lah buat ngelatih 'intuisi bisnis'
katanya... Modalnya balik, operasionalnya berjalan baik, okelah KTA &
KM (Kredit Mertua) lunas, bayanganku saat ROI kita akan punya benefit
yang implisit seperti: terbangunnya sense of bisnis, risk management,
operational mgmt (gimana caranya biar nggak capek dan hard work spt
kata Indra IAS MBA), dan mungkit sebagai pelaku akan lebih belajar
dan menjadi lebih "Smart".
Aku inget banget sebuah warung mie-ayam depan kompleks saat baru buka
2 minggu sebelum puasa lalu aku beli masih sepi, dilayani suami-
istri.. Pas puasa pertengahan aku & istri beli mie ayam & es campur
habis isya', enak sih tapi ramainya ituh.. kami lihat keduanya sibuk
banget & cuapek kelihatannya.. tapi kami bilang hebat juga ya
meskipun belum dua bulan..
Pulang lebaran minggu lalu kami pergi lagi kesana dan masih saja rame
semua meja penuh, dan kelihatannya ber 'turn-over' tinggi (karena
mungkin memang bukan kafe tempat untuk ngobrol lamaa dan belinya cuma
teh botol).. Kami lihat suami-istri (i believe mereka
pemiliknya 'investor+pelaku') itu terlihat jauh lebih santai kenapa?
mereka sedang "mengawasi" (control & monitoring) tiga "pegawai" yang
sedang melayani pelanggan (mungkin mudik kemarin sekalian bawa
kerabat yang putus sekolah). Si istri sedang pegang remote nonton
sinetron, & suaminya sedang asyik merokok.. -- mungkin mengenang masa
lalu saat masih narik becak (atau jadi engineer di sebuah oil
company?) -- mungkin juga lagi mikir untuk buka cabang ke 3 di tempat
lain (setelah cabang ke 2 dibuka dengan sukses di kota "Asmoro
Gandul") -- namanya juga ngayal..
Tapi nggak papalah ngayal positif dari pada nglanjor (nglamun jorok --
tentang sungai Ciliwung) mungkin itu bagian dari "personal
development", atau apalah dengan mengalaminya sendiri -- nggak perlu
training mahal2 ke Asia Works atau ke IPMI (prasetya mulya?), ya
seukuran mereka training cost $4k-5k setiap program studi itu sama
dengan buka cabang ke 6 di Bintaro..
> Walaupun memang belum tentu dengan menjadi pemodal
> sendiri akan lebih mapan dibanding menjadi pekerja,
> tetapi kembali ke pernyataan Lutfi tentang menjadi
> pemodal sendiri, kesimpulannya adalah "Memang berat
> menjadi pemodal sendiri kalau memang niat kita belum
> betul-betul bulat".
Aku setuju sekali dan yang paling penting usaha selain dari diri
sendiri kita mulai (at least semangatnya) untuk membangun sense of
business dan nilai dari "uang" ke keluarga. Nantinya mereka musti
dukung kita toch?
Kalau dibilang menjadi pemodal sendiri "pasti untung" dan memperoleh
kehidupan yang lebih "mapan" ya siapa yang bilang begitu? Ngelihat
mie ayam tadi mungkin hanya dari kasat mata, mungkin dibelakangnya
ada resiko2 yang harus dimanage dengan baik, bapak itu mungkin sudah
menggunakan metode "Boston Square" Risk matrix & management... Justru
itu seninya kata Hermawan Kertajaya & Rienald Kasali. Kalau nggak ya
kayak jadi kroni Suharto jaman dulu yang punya usaha calo dengan PP:
semua pengadaan barang untuk Pertamina harus melalui perusahaan
babeh.. enak ya.
Anto
Novice & pemerhati bisnis mikro & pingin punya bisnis sendiri.
----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.
Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.
Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:22 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10