Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

[PIKSI-L] Re: pendidikan dan pekerjaan (setengah humor)

From Ikhlasul Amal <iamal @ somewhere.in.the.world>
Date Fri, 27 Dec 2002 16:52:47 +0100
Organization Hati yang Lapang
User-agent Mutt/1.3.28i

Pada 27 Dec 2002, 02:32:38, M. Lutfi menulis (diringkas):
% 
% Amal, 
% 
% Tidak seluruhnya konspirasi, atau malah mungkin karena "ketololan"
% negara2 melarat itu sendiri yang enggan menaikkan derajat ke posisi
% lebih tinggi.  Perusahaan2 internasional tsb. hanya "menerapkan"
% prinsip, dalam hal ini, prinsip kapitalisme  (the higher profit the
% better).

	He... he... Lutfi, sayang kita sudah lama tidak ketemu dan
	ngobrol banyak ya? (sekalipun saya masih "surprise" bahwa salah
	satu taut yang mengacu ke nama dan alamat email saya jika dicari
	di Google adalah buku-alamat online punya Lutfi!)

	Percayalah, jika pernah berdiskusi, eh bukan, bersenda-gurau
	denganku, akan tahu mana mungkin aku percaya teori konspirasi.
	;-)

	Jangankan persoalan manufaktur di negara melarat, sampai kasus
	umat Islam menghadapi Israel saja, saya lebih senang
	introspeksi-umat dibanding mengembangkan spekulasi aneh-aneh.
	Terlalu rumitlah menyebut jalinan benang-kusut Pentagon-Tel
	Aviv-Massonary dll. (sekalipun barangkali memang ada) sementara
	tadi siang waktu Jumatan ada saja jamaah yang ribut sampai mau
	tonjok-tonjokkan di dalam masjid sesaat sebelum khotbah dimulai!

	Jadi, soal konspirasi itu: supaya seram saja.
	(maaf, maaf, telah mengobral "suspens"!)

% Wuih....hampir semua produk yang ditemui di Amerika serikat berlabel
% "Made in China".  Dari laptop, printer, tool ini-itu, dsb.

	Benar. "Made in China" itu ada di mana-mana. Aku beli komputer
	satu set pakai Euro, labelnya hampir semua China. Mainan
	anak-anak juga tinggal sedikit yang bukan China. Barangkali
	wisatawan dari RRC saat ini paling susah jika harus beli
	oleh-oleh: kemanapun mereka pergi setiap beli sesuatu untuk
	oleh-oleh, setelah diamat-amati, eh, produksi negeri sendiri!

% Jadi, menurut saya, bukan semata-mata konspirasi asing, tetapi juga
% hasil buah tangan bangsa sendiri.  Bangsa yang ingin maju harus
% berusaha (secara integral dan komprehensif dengan pemerintahnya)
% secara keras dan giat untuk maju; menyisihkan perbedaan dan menyatukan
% pandangan (duh, bahasanya spt. kuliah Kewiraan saja nih...he..he)

	Memang bukan. Faktor internal lebih penting.

	Dan memang benar kita harus giat mempelajari
	ipoleksosbudhankamnas! (tuh, lebih kewiraan lagi, graaak!)

% Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa mereka2 ini
% berangkat dari sekedar negeri penerima "sampah industri" atau sekedar
% pabrik rakitan.

	Di negeri kita sadar juga sih, dari penerima "sampah industri"
	kan ada retribusi ini-itu, jadilah dst., dst. retribusinya
	tambah maju, industrinya malah jadi sampah. Dari dulu pandangan
	alih teknologi, curi-teknologi, dsb. berputar-putar saja tapi
	belum ada yang serius juga untuk "mengambil alih" atau
	"mencurinya." (Termasuk saya nih, belum juga berhasil mencuri
	ilmu kernel)

% Mereka sudah kontak sana-sini (baik birokrat maupun pakar), tapi
% nyatanya hasilnya "anget-anget tahi-ayam". Salah satu problema yang
% dilontarkan rekan saya itu adalah kesetengah-hatian pengusaha muda
% kita, selain faktor2 teknis lainnya.

	Lagi-lagi masalah keseriusan, istiqomah (konsisten), dan sepenuh
	hati. Aduh urusan hati lagi. Kelihatannya yang diperlukan
	sekarang memang model "diam-diam menghanyutkan" bukan "tong
	kosong nyaring bunyinya."

% Pernah jalan2 ke Singapura, Malaysia, atau Shanghai dan kawasan
% industrinya? jalan2 disana sangat diutamakan. Port-to-factory link
% dinomorsatukan. Lupakan jalan2 di negara2 maju spt. Jepang dan US
% (yang jalan2 kampung ['country road'] nya saja mulusnya spt. tol di
% Indonesia).

	Jangan kuatir, sekalipun jalan jelek, peminat Ferari di
	Indonesia ada beberapa orang. Mau dikendarai di mana? Disimpan
	saja di garasi, dipandangi seperti lukisan Van Gogh!

	Maklumlah negara kaya...
	Menurut sigi di Republika, potensi Zakat Fitrah (yang "cuma" 2,5
	kg beras itu) di Indonesia setiap tahun senilai 1,8 trilyun
	Rupiah. Luar biasa kan? Seandainya kita punya pemimpin yang
	dapat mengajak ke arah yang benar dan sanggup memobilisasi
	potensi di dalam negeri, rasanya cerita TKI sampai dipecuti di
	Malaysia (dan masih juga nekat balik lagi ke sana) tidak ada.

% Kelatahan para pebisnis Indonesia juga sering menjadi bumerang.

	Jadi ingat kelakar Steven Haryanto, alumni TK ITB yang berhasil
	mempermalukan KlikBCA.com, "Imitation is the highest form of
	appreciation." (di Failco)

% Mungkin tulisan saya terdengar skeptis. Tapi, yah itulah adanya.

	Bagi saya, semua tulisan tentang Indonesia terbaca "humoris."
	:-)

	Sampai-sampai bom meledak di Bali dan memangsa ratusan jiwa
	manusia menjadi olok-olok yang tidak berkesudahan. Karena semua
	pandangan tentang Indonesia harus berhadapan dengan kenyataan
	yang sedemikian pahitnya sampai-sampai berubah menjadi
	menggelikan. Pengalaman saya menjadi "stuntman" berani mati di
	KRD Rancaekek-Bandung mempertegas bahwa ambang takut, ambang
	derita, dan ambang prihatin bangsa kita sudah nyaris hilang.
	Yang terdengar orang tergelak-gelak, "Ha... ha... anjrit!"

---akhir kutipan---

-- 
amal
iamal @ somewhere.in.the.world
-----------------------
Man with one chopstick go hungry.
		-- Chinese proverb

----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.

Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.

Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 


 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:22 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10