Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | "indraias <indraias @ somewhere.in.the.world>" <indraias @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Mon, 30 Dec 2002 03:12:14 -0000 |
| User-agent | eGroups-EW/0.82 |
Menarik sekali membaca tulisan Mas Tiko (saya sendiri terus terang lupa orangnya yang mana, tapi saya yakin kita sama-sama pernah ketemu waktu masih di gedung (sorry rumah)) PIKSI lama. Pada prinsipnya saya setuju dengan tulisan beliau mengenai kebutuhan engineer dan kurangnya produsen (real produsen) dalam negeri. Memang masalahnya saat ini sudah sedemikian kronis. Konsep awal Suharto di awal 70-80an yang secara strategic men-shift agrobisnis ke manufacturing-bisnis sebenarnya secara teori sudah sangat tepat. Kebijakan proteksi yang diterapkan di era 80-90an juga secara -maaf diulang lagi- teori sudah sangat tepat, dimana konsep "mencuri teknologi" ada disana. Yang jadi permasalahan saat itu (90-an) adalah pelaku-pelakunya sendiri yang memang tidak mempunyai (kalau boleh dikatakan sedikit) "long-term" goodwill untuk memajukan bangsanya, tapi lebih ke memajukan perusahaannya. Dan karena sebagian besar perusahaan kelas kakap di era itu (dan saat ini) adalah perusahaan keluarga, maka long-term goodwill tadi lebih berat ke arah memajukan keluarganya. Dan semua orang (sepertinya) tahu kalau sumber cash yang paling cepat dan paling menguntungkan adalah 'trading' dan bukan 'manufacturing'. Kenapa harus membangung pabrik mobil sendiri kalau impor mobil atau setidaknya impor teknologi mobil lebih murah. Kenapa harus riset mahal-mahal untuk buat TV Plasma kalau impor lebih murah dan lebih menguntungkan. Dulu pernah ada gerakan ACI (aku cinta buatan Indonesia) sekitar tahun 85-an kalau nggak salah. Tujuan luhurnya sih bagus untuk memajukan buatan bangsa Indonesia, tapi tidak disupport 100% oleh pemerintah. Akhirnya harga jual akhir di pasar tidak bisa bersaing dengan harga impor karena untuk membeli raw- materialnya saja sudah dibebani oleh segala macam pajak dan bea plus 'learning curve' kita saat itu masih tinggi (karena man-power resourcenya masih baru belajar) sehingga barang-barang Made-in- Indonesia terkenal mahal dengan kualitas yang jelek. Akhirnya? secara naluriah orang cari barang dengan value tertinggi. Barang import jadi lebih laku, mahal-mahal dikit konsumen masih mau beli lah asal kualitasnya (benefitnya) juga sebanding. Saat ini begitu learning curve kita sudah mulai merendah (artinya kita sudah bisa mulai membuat barang berkualitas), eehh malah ongkos produksinya yang mulai meningkat dan akhirnya ujung-ujungnya sama dengan jaman ACI dulu, tidak bisa bersaing dengan barang-barang impor. Saya tertarik dengan usaha Korea Selatan dalam memajukan bangsanya dengan konsep yang kurang lebih sama dengan REPELITA-nya orde baru. Selama kurang lebih 20 tahun (sejak akhir 70an) Korea Selatan mulai mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk 'mencuri' ilmu dari berbagai negara maju, baik ilmu bisnis maupun ilmu manufacturing. Maaf saya tidak mau menggunakan jargon MBA dan Engineer, karena pada intinya kedua hal tadi hanyalah sebuah pilihan. Dan satu hal yang mereka sudah sadar sejak 20 tahun yang lalu, mereka harus belajar dan belajar dan belajar dan belajar sedemikian rupa sehingga akselerasi atau percepatan development mereka jauh lebih tinggi dari percepatan negara-negara maju. Sebagai contoh, kalau Motorolla bisa growth dengan kecepatan 20% per tahun, maka Samsung harus bisa 100% per tahun. Kenapa tidak 21% atau 30%? Ya pasti kalah dong, wong titik startnya Motorolla dan Samsung berbeda! Jadi kalau mau menang ya harus jauh lebih cepat dong! Penguasaan ilmu inilah sebenarnya yang menjadi masalah di Indonesia. Banyak lulusan perguruan tinggi terbaik kita terpaksa hengkang ke Bank (jaman tahun 90-an awal), IT company (jaman tahun 90-an akhir), Asuransi (jaman tahun 2000-an awal), atau Telekomunikasi (jaman tahun 95-an) regardless of lulusan dari jurusan mana dia. Kenapa? Simple, Demand pada saat itu lebih banyak dari supply! Dan kondisi ini akan terus berlanjut kalau pemerintah kita tidak punya langkah-langkah strategis dalam bidang pendidikan. Bayangkan untuk pendidikan dasar (SD s/d SMA) -yang seharusnya menjadi tiang pancang membangun manusia pintar- saja harus minta-minta lewat TV. Menurut saya pribadi, pemerintah saat ini (dan saat orde baru dulu) cenderung melihat masalah secara short-term dan bukan long-term. Tidak tertutup kemungkinan kalau generasi anak-anak kita nanti akan lebih 'tulalit' dibanding teman-temannya dari Vietnam, Myanmar, Kamboja, ataupun Timor-timur yang baru merdeka. Saya sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi masalah nasional mengenai pendidikan ini. Yang bisa saya lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk minimum memintarkan anak-anak saya. Balik lagi ke masalah manufacturing. Menghadapi AFTA 2003 ini saya yakin kita punya kesempatan bersaing yang lebih tinggi. Kenapa? AFTA yang pada intinya membuka segala macam tarif bukan hanya berlaku untuk produk jadi, tapi semua produk. Apa artinya? bahan baku bisa lebih murah, mesin-mesin produksi bisa lebih murah, dan pemanfaatan teknologi baru bisa lebih murah yang pada akhirnya memicu pebisnis- pebisnis kita untuk mulai lagi menggiatkan manufacturing business. Apalagi kalau dulu (mimpi dikit) kita punya buanyak lulusan MM/MBA plus punya buanyak engineer wah pasti enak banget nih. Mau buat bisnis apa aja pasti bisa. Mau ngexport apa aja pasti bisa. Tapi mimpi hanya mimpi, sekarang kalau mau buat bisnis, tenaga kerja dan engineer trampilnya kurang. Atau sebaliknya kalau engineer jagoannya ada, ehh investornya nggak mau nginvest. But let see in 2003. Sekarang tentang MM/MBA vs. Engineer. Saya sendiri terus terang kurang setuju dengan konsep pemisahan hitam putih ini. Saya kira MM/MBA adalah engineer juga dan engineer pada level-level tertentu juga businessman juga. Dan pada kenyataannya kedua titik ini harus bersatu padu membangun ekonomi. Tidak ada seorang ahli bisnis yang bisa maju tanpa punya segudang ahli teknologi dan begitu sebaliknya sebaik apapun teknologi yang dihasilkan tidak ada artinya kalau tidak ada orang yang bisa menjualnya atau tidak ada ahli finance yang mengerti cara mengalokasikan modal sehingga nilai skala ekonomis bisa tercapai. So, tidak ada yang salah kalau seorang 'real engineer' tiba- tiba mengambil sekolah bisnis atau menjadi businessman (contoh: Bill Gates) atau seorang 'real businessman' yang tiba-tiba menjadi real- engineer (contoh: Bill Gates juga). OK. That's mine. Wassaalaam.wr.wb indra i ---------- Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi, ITB, Indonesia. Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali* tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal. Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:22 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10