Arsip Piksi-L

Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya

Indeks - Tanggal   Indeks - Ulir Diskusi

Re: [PIKSI-L] Warning...Tulisan ini Panjang...Kalau Baca tanggung sendiri.

From fauziah <fauherklots @ somewhere.in.the.world>
Date Sun, 29 Dec 2002 19:37:14 -0800 (PST)

--- Tiko <tiko_piksi @ somewhere.in.the.world> wrote:
> No Hard Feeling Please.
> 
Sure.. namanya juga diskusi.. ngapain diambil hati :-)

> punya pengalaman kerja. Institusi penganjar MBA,
> Universitas2 termasuk MBA Tek ITB sih oke2
> saja....dapet duit..SPP. Malah yang parah lagi
> ditambahin kelas Pre MBA, atau BBA. 
> Prinsip ini yang saya tentang habis. Terutama kalau
> prinsip ini ada di ITB. ITB institusi yang seharusnya
> menghasilkan produk Engineer. Yang akan mengisi

MIT yang jadi kiblatnya ITB menghasilkan top economists dan sociologists.
Bahkan ranking economics-nya bertengger di top school-nya US.

> kekosongan posisi Engineer dinegara ini. Yang bakal
> buat usaha pertambangan, industri komponen elektronika
> mekanika industri Software ( KARAPAN SAPI..!!! ), Buat
> usaha konstruksi dsb dst. Kalau sekarang perusahanan
> Tambang: VICO,ARCO,CALTEX,MOBIL OIL entah apa lagi,
> Mobil:TOYOTA dsb. Semua asing. Usaha konstruksi
> kebanyakan Korea...yang buat jalan layang/tol..malah
> ada yang dari philipina/malaysia.
> Engineer Indonesia/ITB.....MBA, MBA, MBA, jual sepatu,
> jual beras, jual sapi, jual melon.

Medco bikinan alumni ITB, apa kelebihannya dibanding PMA dibidang oil dan gas?
Dulu anak ITB bikin chip yang bagus pada zamannya, siapa yang beli? Jepang toh.. karena
tidak ada satupun pengusaha/pemerintah Indonesia yang berminat. Ini masalah dilevel
policy, pelaku mikro kadang cuma menjadi victim. Banyak teman saya yang dosen ITB pengen
sekolah lagi keluar tapi susah banget kesempatan beasiswanya; padahal banyak univ di
Eropa dan US yang open selection; kenapa? Karena dosen tua nggak pernah ngasih tau apa2
(entah nggak tahu, entah nggak punya network, entah takut disaingi), jarang ada kejelasan
bagaimana karir di ITB, akibatnya lulusan terbaikpun enggan memilih jadi dosen. Padahal
kualitas pendidik mempengaruhi kualitas output. Tahu sendirikan dosen ITB juga banyak
yang nongol sekali-dua dalam satu semester.. karena udah Prof nggak ada yang berani
negur. Apa yg model gini akan menghasilkan output yang optimal pula?

> 
> --Fauziah--
> " Kalau soal banting setir, saya pikir banyak diantara
> kita dulunya pilih ITB bukan karena sudah bisa
> mastikan pilihan hidup sebagai engineer/scientist."
> 
> Agak bingung saya dengan komentar ini. Saya milih MS
> ITB karena punya cita2 ( waktu SMP ) mau buat sesuatu
> yang ilmunya ada diMS. Sebelumnya sempet 1thn PMDK di
> Gimana kalau dulu saya kagak masuk terus ketemu
> pedagang sandal lulusan MS-ITB...tak tabokin.
> Setelah masuk juga ada temen sangkatan yang lebih bego
> dibanding temen SMA saya yang juga milih ITB tapi
> tidak lulus Sipenmaru.
> 
Anda beruntung karena telah mantap dengan pilihan sebelum memilih UMPTN, tapi banyak yang
belum seberuntung anda. Contohnya jokes kita dulu: masuk ITB lewat MA keluar lewat PL..
(sorry.. ;-)) Kalau saja saya tahu bahwa ekonomi menggunakan kalkulus sebagai toolsnya
dan bukan cuma pembukuan ala koperasi seperti yang diajarkan oleh guru Ekop SMA saya
dulu, mungkin saya dari awal akan pilih sekolah di Ekonomi. Kalau saja kakak2 saya ada
yang bukan kuliah teknik, mungkin saya nggak merasa otomatis harus menjadi insinyur; dan
kalau saja guru2 Fisika dan Matematika saya di SMA tidak otomatis "memaksa" saya pilih
teknik...
Ini cuma ilustrasi, bahwa di umur 17 tahun pada saat harus memilih univ, tidak semua
orang siap, terutama dari SMA di luar Jawa dimana konseling bakat belum jadi keumuman.
Seperti yang saya bilang sebelumnya, cerita ini bukan monopoli Indonesia, makanya di bbrp
negara maju ada pre-college, dimana kita bisa memantapkan pilihan, however tetap saja
tidak selamanya haram buat banting stir. Banyak ilmuwan top dunia di bidang ekonomi
ternyata S-1 nya dari jur Eksakta malah sampe bisa dapet Nobel segala.

Bagi saya yg penting adalah orang memilih berkarya dimana dia bisa memaksimalkan
potensinya. (maksimal nggak otomatis banyak duit ya..) Kalau dia jagonya R&D ya silahkan
bertekun disana, kalau jagonya jualan ya silahkan jualan yang banyak, kalau jagonya
ngomong (seperti para "pakar pengamat" kita) silahkan jadi selebritis, kalau jagonya kuli
aja ya jadilah kuli yang terbaik, dst... yang penting dikerjakan sepenuh hati, tujuan
yang baik, dan maksimalisasi potensi. Kalau percaya pada pendapat invisible handnya Adam
Smith, maka berdasarkan self-interest masing2 entiti2 ini akan bergerak menuju
keseimbangan dimana alokasi sumber daya menjadi optimal. Kalau nggak bisa jadi dosen yang
baik ya jangan maksa jadi dosen..

Berapa banyak alumni ITB yang deviate seperti saya? mungkin sedikit.. berapa banyak yang
setia dijalurnya? mungkin banyak... tapi berapa banyak yg deviate ini menjadi tidak
optimal dan berapa banyak yg setia ini menjadi optimal? 

> --Fauziah--
> " Dan lagi produksi bukan cuma manufaktur toh? Di
> negara maju services sector lebih banyak menghasilkan
> uang."
> 
> Mereka konsentrasi di sektor manufaktur yang lebih
> tinggi dan R/D. Manufaktur yang kacangan dan banyak
> limbah di relokasi kenegara lain, otaknya tetep
> dimereka. Tujuannya: Lebih murah, limbahnya kagak
> kebagian, mematikan pesaing dinegara tujuan. Bayangin
> kalau Cina ikut2an reverse engineering seperti AMD,
> produsen prosessor AS bakal terjengkang semua. Mereka
> belajar dari mobil jepang.
> 
> Jangan coba2 prinsip "Negara maju Lebih fokus ke
> sektor service di banding Manufaktur " dinegara kita.
> Karena yang krusial di RI adalah manufaktur, ini yang
> lebih utama karena bahan bakunya sudah didepan
> 

Statistically, total manufacturing sector (dari light sampe hi-tech industri) di negara2
maju kontribusinya tetap dibawah services sector (cek saja data negara2 OECD dari tahun
1980-an sampe sekarang). Pandangan bahwa yg krusial di RI adalah manufaktur banyak
diusung oleh economists negara kreditor dan menjadi resep patennya IMF dan Worldbank
dalam meminjamkan uang ke semua negara berkembang/miskin. Kalau mau melihat angka saja,
memang sektor manufaktur yang tradable dan "bernilai" (apalagi dibanding agrikultur),
tapi melihat what lies behind the strategy, kita mesti lebih berhati2... (kalau yang ini
pembahasannya bisa panjang lebar nih... lebih baik nggak disini).

Yang penting kita harus tahu dimana kelebihan dan kelemahan kita. Kalau memang bukan
jagonya bikin kapal terbang ya jangan maksain jadi produsen kapal terbang. (Saya nggak
ngetawain temen2 yg kerja di IPTN, masing2 punya pilihan.. dan mereka pinter2). Nantinya
malah jadi wasting resources dan biaya produksinya tinggi. Dalam konteks regional/space,
suatu daerah/nation akan terspesialisasi pada advantage-nya dimana dia bisa memproduksi
komoditi tsb secara efisien dan economies scale. Artinya tidak semua komoditi manufaktur
harus diproduksi sendiri oleh suatu negara, import bukan suatu yang haram, itulah gunanya
international trade.. tukar menukar barang kebutuhan pada harga pasar. Pandangan yang
memaksakan self-sufficient telah lama membuktikan kelemahannya seperti dalam kasus
centralized economy-nya Uni Soviet zaman dulu. Balik ke level mikro, kalau masing2
manusia Indonesia berdiri pada posisi optimalnya maka di level makro, mestinya akan
saling mempengaruhi sehingga nantinya kita akan fokus pada advantage kita saja.
Menurut saya, dibidang bioengineering Indonesia punya advantage ini, tapi level makro
kita belum mendukung. Juga bbrp bidang lain, tapi TIDAK semua bidang... apalagi
pengembangan core membutuhkan tidak cuma manusia yg kompeten tapi juga berbagai faktor
langsung dan tidak langsung lainnya. Kakak saya pernah mencoba set up mati2an untuk
membangun industri mobil nasional (benar2 mau bikin sendiri semua komponen pentingnya)
dan sudah berhasil mendapat komitmen dari berbagai negara partner seperti Brazil,
Inggris, Itali, Jepang dan Korea, tapi toh terjungkal karena permainan politik dan uang
ditingkat lebih tinggi. Sudahlah.. itu cerita lama...
Mungkin yang lain punya pendapat yang lebih bagus dari saya... silahkan..

wassalam
:-) fau  

__________________________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Plus - Powerful. Affordable. Sign up now.
http://mailplus.yahoo.com

----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.

Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.

Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
 

Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ 


 

Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:22 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10