Tanggal Sebelumnya Tanggal Berikutnya Ulir Sebelumnya Ulir Berikutnya
Indeks - Tanggal Indeks - Ulir Diskusi
| From | Ikhlasul Amal <iamal @ somewhere.in.the.world> |
| Date | Tue, 7 Jan 2003 09:37:04 +0100 |
| Organization | Hati yang Lapang |
| User-agent | Mutt/1.3.28i |
Pada 06 Jan 2003, 21:21:53, Tiko menulis (diringkas):
% Temen2,
% Anda2 pasti sudah sibuk lagi.
% Ini tulisan penutup saya untuk diskusi ttg MBA org ITB.
%
% Orang kita masih berpendapat Kekayaan/Kemapanan sebagai tolok ukur
% kesuksesan ( Termasuk dilingkungan ITB ) lihat saja alumni kalau
% kumpul yang dilihat posisinya sudah jadi apa, mobilnya apa, rumahnya
---akhir kutipan---
Salut buat Yustiko Kliman, jauh-jauh dari Palembang, menyeberang
Selat Sunda untuk datang di Bandung, dan konsisten dari awal.
Aku sudah "curiga" dengan tulisan kedua dan menunggu sekuel
berikutnya, dan ternyata memang ditutup dengan suatu kesimpulan
yang sebenarnya sudah kerap kali disebut di sini. Hanya saja
kita datang dari arah yang berbeda satu dengan lainnya. Ada yang
datang dari Amerika, Jepang, Belanda, Ciledug, Sukabumi,
Bandung, dst.
Hampir semua dari kita di sini sepakat bahwa untuk sebuah
Indonesia yang lebih baik, lebih maju, kita harus melepas
atribut-atribut kuno bernama "gaya hidup snob." Semua nyaris
setuju bahwa jangan asal cuma beli, namun buat -- sekalipun
dengan ungkapan yang berbeda-beda. Jangan cuma meminta kepada
orang lain, tapi memberi.
Tentu saja perbedaan itu tidak membuat kita menjadi bertolak
belakang mutlak satu dengan lainnya.
Saya kira benang merah itu sudah terjalin, dan sisa-sisa
ketidakcocokkan itu sendiri sudah merupakan persoalan
suprastruktur. Misalnya, benarkah ITB sudah menghasilkan
insinyur dan ilmuwan yang dapat konsisten pada jalurnya? Saya
kira pertanyaan seperti itu cukup merepotkan jika diajukan pada
konteks pribadi; lebih layak diukur secara statistik, dan
percayalah, niscaya terjadi simpangan. Katakanlah 80% dianggap
angka memadai, maka 20% sisanya bisa dilabeli, "pertimbangan
lingkungan, nasib, perubahan orientasi, dll." Itu wajar saja dan
tidak perlu divonis sebagai kesalahan.
Demikian juga dalam skala nasib bangsa yang lebih luas, para
pemikir (Tiko tidak suka menggunakan istilah "para doktor",
padahal saya ingin juga meletakkan mereka pada pekerjaan yang
lebih tepat) dapat merumuskan arah yang lebih cocok dan lebih
melindungi nasib bangsa Indonesia secara umum. Dalam skala lebih
luas inilah yang saya protes jika dikatakan suatu bidang
dianggap lebih diperlukan dibanding yang lain. Selain karena
belum jelas mau dibawa kemana Indonesia, rasio semua profesi di
Indonesia (dibanding jumlah penduduk yang luar biasa itu) masih
tetap kecil. Alih-alih yang sudah sampai pada level profesional.
Tentu saja, konteksnya akan berubah jika yang dibicarakan
spesifik di ITB, misalnya.
Itu semua dalam kerangka organisasi, apakah itu ITB atau sebuah
bangsa bernama Indonesia.
Sedangkan dalam konteks pribadi, menurut saya embel-embel itu
semua lupakan saja. Lebih baik kita bekerja dalam konteks
didorong ("driven") oleh Allah. Jadi karena saya punya bekal
pemrograman misalnya, maka saya bisa memanfaatkan hal itu untuk
membawa manfaat bagi orang lain, mengaktualisasikan hal itu
untuk bekal belajar yang lebih lanjut lagi, dan hal-hal positif
lainnya. Itu semua dalam konteks rasa syukur kita kepada Allah.
Karena sebenarnya yang dinilai Tuhan adalah rasa syukur itu,
lebih dari pemrograman, Kalkulus, atau ratusan teknik/metode
lainnya.
Secara individu saya juga percaya sekali dengan spesialisasi,
karena dengan demikian setiap komponen menjadi fokus pada
bidangnya. Organisasilah yang menjadi penghantar yang kondusif
terhadap kumpulan fokus tersebut.
--
amal
iamal @ somewhere.in.the.world
-----------------------
Membubuhkan arang di muka orang:
mempermalukan orang dan membuat aib namanya
----------
Piksi-L @ somewhere.in.the.world merupakan 'mailing-list' alumni asisten Piksi,
ITB, Indonesia.
Opini yang disampaikan di forum ini merupakan pendapat/sikap
pribadi, kecuali secara eksplisit dinyatakan lain, dan *sama sekali*
tidak berkaitan dengan kelembagaan Piksi ITB secara formal.
Untuk berhenti, kirim email ke piksi-l-unsubscribe @ somewhere.in.the.world
Pengelola Piksi-L: piksi-l-owner @ somewhere.in.the.world
Informasi Piksi-L: http://www.yahoogroups.com/group/piksi-l
Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
Dihasilkan pada Thu Sep 22 18:42:22 2005 | menggunakan mhonarc 2.6.10